Terdampak Pandemi, Ingin Generasi Muda Lestarikan Tarling Klasik

oleh -34 views
TAMPIL: Seniman Tarling Klasik Indramayu Tasam atau akrab disapa Bapak Cang dan Inah menghibur tamu dengan alunan khas musik klasik Dermayon, kemarin. FOTO: JAMAL/RADAR INDRAMAYU

Dampak pandemi Covid-19 dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Tidak terkecuali oleh seniman tarling Indramayu, Tasam (70) dan sinden senior Inah (52).

JAMAL, Sliyeg

TASAM atau yang akrab disapa Bapak Cang merupakan musisi melodi tarling klasik legendaris yang sudah berkiprah selama 40 tahun lebih. Bersama dengan sang istri, Inah yang menggeluti dunia sinden tarling selama 30 tahun, kondisinya kini memprihatinkan.

Sepi manggung, dua pasangan seniman klasik asli Indramayu itu harus beralih menjadi buruh tani dan bekerja serabutan.

Kepada wartawan koran ini, Bapak Cang mengaku kesulitan dalam melestarikan seni budaya Bumi Wiralodra sendiri. “Ya, pertama karena memang minat masyarakat sudah beralih lebih menyukai dangdut, juga kedua karena lagi musim virus corona, kita jadi sepi panggilan untuk pentas,” ujarnya.

Selama pandemi Covid-19, Tasam harus menjadi buruh tani dan servis lampu. Meskipun hasilnya tidak seberapa, hanya Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per harinya. “Lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Bapak Cang kepada Radar Indramayu di kediamannya, Desa Mekargading No 51 Kecamatan Sliyeg.

Saat ini, Tasam dan Inah mengasuh satu anak yatim bernama Josep (11) peninggalan menantunya yang merupakan pencipta lagu “Juragan Empang”, almarhum Nono Trondol yang telah meninggal dunia 4 tahun silam.

Bahkan, orang tua dari 5 anak itu juga terpaksa harus menjual 2 gitar peninggalan almarhum, yang digunakan untuk acara doa dan tahlil mendiang.

Keluarga seniman tarling yang sudah malang melintang di Jawa, Banten, DKI Jakarta, hingga Sumatera itu, kini hanya bisa pasrah menerima keadaan. Dirinya hanya berharap warisan budaya lokal khas Indramayu asli itu tidak punah dimakan zaman.

“Saya berharap ada anak muda yang berminat melestarikan seni klasik tarling ini. Sebab usia saya sudah tidak muda lagi. Sejauh ini baru ada dua anak muda yang bersedia belajar dari Sanggar Penjalin Desa Tugu Lor Kecamatan Sliyeg, itu pun memang belum begitu serius menekuni. Karena sudah terpengaruh aliran dangdut moderen,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *