Rp10 Triliun dari Hasil Perikanan

oleh -63 views
HASIL TANGKAPAN: Sejumlah nelayan tengah mengangkut ikan hasil tangkapan di tempat pelelangan ikan (TPI) Karangsong Kabupaten Indramayu, Selasa (19/10). FOTO: UTOYO PRIE ACHDI/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU-Kabupaten Indramayu yang terletak di pesisir Jawa Barat bagian utara memang memiliki potensi besar di bidang perikanan.

Tak heran, Indramayu selama ini mampu memenuhi 40 persen kebutuhan perikanan Jawa Barat. Mayoritas warganya hidup dari sektor perikanan dan kelautan, di samping sektor pertanian.

Geliat sektor perikanan Kabupaten Indramayu di tengah pandemi memang sedikit terpengaruh, dengan sepinya pasar.

Namun untuk hasil produksi cenderung naik, meski sempat ada penurunan di awal pandemi Covid-19.

Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, produksi perikanan Indramayu selama empat tahun ke belakang cenderung naik.

Tahun 2017 produksi mencapai 458.257,74 ton atau senilai Rp10,244 triliun. Kemudian tahun 2018 sebanyak 480.617,05 ton (Rp10,435 triliun), tahun 2019 sebesar  478.908,94 ton (Rp9,470 triliun), dan tahun 2020 kembali meningkat menjadi 484.366,10 ton (Rp9,574 triliun).

Produksi perikanan terbesar berasal dari perikanan tambak. Disusul dari perikanan tangkap (laut), perikanan air tawar, perairan umum, dan rumput laut.

Potensi tambak di Indramayu yang menjadi andalan adalah tambak udang vanamae, udang windu, ikan nila, dan rumput laut.

“Untuk tambak yang kita kembangkan memang disesuaikan dengan karakteristik daerah kita. Selain itu kita juga melihat apa yang dikembangkan daerah lain sebagai pesaing,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Edi Umaedi, Selasa (19/10), di ruang kerjanya.

Untuk perikanan laut (tangkap), nelayan Indramayu sudah tidak diragukan lagi ketangguhannya.

Mereka sudah melaut hingga ke Kepulauan Natuna, Papua, dan wilayah perairan lainnya yang sudah ditentukan. Wilayah penangkapan mereka memang sudah terukur. Tentunya disesuaikan juga dengan besaran kapal.

Kapal-kapal kecil biasanya hanya mencari ikan di lokasi yang tidak terlalu jauh. Sementara untuk kapal-kapal dengan ukuran 30 GT hingga 100 GT mencari ikan hingga ke Kepulauan Natuna dan Papua.

Yang menarik, pemilik kapal-kapal nelayan di Kabupaten Indramayu mayoritas atau hampir semuanya adalah perorangan. Mulai dari ukuran kecil hingga besar.

Ini berbeda dengan daerah perikanan lainnya di Indonesia, di mana kapal-kapal dimiliki oleh perusahaan. Hebatnya lagi, kapal-kapal yang mereka miliki juga dibuat di Indramayu oleh orang Indramayu.

Menurut salah seorang pemilik kapal, H Suwarto, “arsitek” pembuatan kapal nelayan di Indramayu tidak memiliki pendidikan khusus. Bahkan ada yang hanya lulusan SD. Tapi mereka mampu membuat kapal dengan ukuran 30 GT hingga 100 GT dengan harga mencapai miliaran rupiah. “Mereka memiliki kemampuan otodidak yang turun temurun dari orang tua,” kata Suwarto.

Jumlah kapal nelayan di Kabupaten Indramayu, berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu,  saat ini sudah mencapai 6.074 buah. Jumlah ini sangat besar dibandingkan daerah lain.

Banyak kapal nelayan Indramayu yang mendarat di luar daerah, karena kapasitas pelabuhan Karangsong di Indramayu ini memang sudah tidak bisa menampung.

“Harapan kami pelabuhan Karangsong bisa segera dikembangkan menjadi pelabuhan nusantara, sehingga semua kapal nelayan Indramayu bisa mendarat di sini,” ujar Suwarto yang juga tokoh nelayan Indramayu ini. (oet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.