Ribuan Rumah Masih Terendam, Jalan Tergenang, Warga Sebut Banjir Tahun Ini Lebih Parah

oleh -100 views
TEMPA T JEMUR DADAKAN : Jalan Pantura Kertasemaya digunakan warga korban banjir sebagai tempat menjemur kasur, kemarin.

INDRAMAYU- Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu masih banjir. Hingga, Rabu (10/2) sore kemarin masih terdapat ribuan rumah terendam.

Di Kecamatan Kandanghaur banjir menerjang 11 desa. Dampak dari banjir yang terjadi Selasa (9/2), tercatat ada sebanyak 14.733 unit rumah terendam. Sedikitnya 8.000 warga korban banjir mengungsi.

Pantauan Radar Indramayu, rumah yang masih terendam banjir terlihat di sembilan desa. Ketinggian air antara 30 hingga 60 sentimeter.

Dengan kondisi rumah masih terendam wargapun masih bertahan di tempat pengungsian. Warga korban banjir yang rumahnya didekat jalur pantura lebih memilih mengungsi di jalan pantura. Pengungsi menempati badan jalan arah ke Jakarta.

Camat Kandanghaur, Iim Nurohim SSos mengatakan, banjir di Kecamatan Kandanghaur merupakan banjir kiriman dari wilayah selatan. Air kiriman tersebut datang pada Senin (8/2) malam. “Banjir kiriman melalui Sungai Cilalanang, Kali Perawan dan Kali Beji dan meluap kemudian menggenangi sebagian besar desa di Kecamatan Kandanghaur. Dari 13 desa di Kandanghaur ini, sebanyak 11 desa yang terdampak banjir,” ujarnya.

Desa terparah diterjang banjir, lanjut Iim, yakni Desa Karanganyar, Eretan Wetan dan Kertawinangun. Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam, Kecamatan Kandanghaur terus mobile memantau perkembangan banjir.

Untuk pelayanan kesehatan, Puskesmas Kandanghaur dan Puskesmas Kertawinangun membuka posko pengobatan dibeberapa titik lokasi. “Desa Karanganyar tercatat ada sebanyak 3.303 unit rumah yang terendam dan Eretan Wetan 3.221 rumah. Sementara di Desa Kertawinangun ada sebanyak 1.218 rumah terendam. Banjir juga merendam areal persawahan seluas 4.246 hektare yang sebagian besar sudah ditanami,” terang Iim.

MASIH RENDAM JALAN

Sementara itu, meski sudah surut, banjir masih merendam permukiman dan akses jalan di Blok Karanganyar dan Blok Cibogor Desa Kongsijaya dan Desa Widasari Kecamatan Widasari. Ketinggian air di Raya Cibogor sekitar 50 centimeter. Pengendara sepeda motor terpaksa menerjang air genangan, walaupun beberapa pemotor didorong oleh pemiliknya karena mogok.

“Banjir sejak Senin sore akibat meluapnya Sungai Cibuaya. Air masih merendam permukiman dan jalan lintas antar kecamatan di Blok Cibogor,” ujar Kuwu Kongsijaya, H Sutarjo di Posko Bencana, Rabu (10/2).

Menurutnya, sejak Senin malam akses Jalan Raya Cibogor Kecamatan Widasari sempat lumpuh tidak bisa dilintasi kendaraan roda dua, dan hanya dapat diintasi kendaraan besar. “Sekarang (Rabu) akses jalan dapat dilintasi oleh kendaraan roda dua, meskipun ada kendaraan warga yang mogok,” katanya.

Lebih lanjut, dikatakan Sutarjo, sejak banjir terjadi langsung mendirikan posko di dataran paling tinggi agar lebih aman karena banjir ini lebih parah dari bulan yang lalu.

“Alhamdulillah pemerintah desa bersama relawan saling membantu warga yang terdampak banjir untuk kebutuhan pasokan makanan dan kebutuhan lainnya,” tandasnya.

PANTURA DIPENUHI KASUR

Di Desa Kertasemaya dan Tulungagung, air masih menggenangi permukiman warga hingga sebetis orang dewasa. Namun, sebagian besar warga terdampak mulai melakukan kegiatan membereskan berbagai perlengkapan yang basah karena banjir.  

Sepanjang Jalan Pantura Kertasemaya jadi tempat jemuran warga. Di sepanjang jalan, dipenuhi kasur dan perabotan warga yang dijemur akibat kebanjiran.

Salah seorang warga, Rasmini (53) mengatakan,  banjir bandang dari Sungai Cimanuk sejak Senin malam (8/2) yang menenggelamkan permukiman warga. Sehingga, barang-barang milik warga seperti peralatan elektronik, dan barang lainnya harus direlakan terendam air.

“Air cepat naik, gak sempat selamatkan barang-barang. Mending baju di atas lemari masih ada yang kering, tapi kasur sudah basah semua alat eletronik juga ada yang sempat diangkat dan tidak,” ujarnya.

Kondisi jalan yang ditutup satu jalur, karena dijadikan tempat pemasangan tenda-tenda darurat evakuasi warga, ditambah cuaca yang kembali cerah menjadi kesempatan warga untuk menjemur kasur. “Jemur di teras rumah masih tergenang, ya jadi pilih jemur di jalan raya saja mumpung masih ditutup,” ujarnya.

Sementara itu, warga lainnya, Wawan (42) mengatakan, banjir sekarang lebih parah dari yang pernah dialami warga di Kecamatan Kertasemaya. “Beberap tahun lalu pernah banjir karena Sungai Cimanuk meluap tetapi tidak separah tahun ini,” katanya. (kom/oni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.