Petani Tambak Rugi Puluhan Miliar

oleh -278 views

INDRAMAYU– Rugi besar. Nasib apes itulah yang dialami para petani tambak di wilayah Kecamatan Kandanghaur. Tak hanya permukiman warga dan lahan pertanian, ratusan petak tambak di wilayah pesisir Pantura Laut Jawa itu juga tenggelam akibat bencana banjir.

Imbasnya, masing-masing pemilik tambak menderita kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jika ditotal ditaksir mencapai puluhan miliar. “Laporan rincinya belum masuk. Tapi informasi sementara ratusan tambak yang tenggelam. Itu yang di tiga desa, kerugiannya mungkin mencapai puluhan miliar,” sebut Camat Kandanghaur, Iim Nurohim kepada Radar Indramayu, kemarin (28/2).

Kerugian itu diderita para petambak di sentra perikanan darat yang tersebar di Desa Bulak, Parean Girang dan Soge. Posisinya berada di sebelah selatan jalan raya Pantura. Banjir di lokasi itu imbas dari luapan air Kali Beji, Kali Perawan, Kali Cilalanang dan saluran pembuangan Bojong. Rata-rata para petambak menanam berbagai jenis ikan seperti lele, mujair, nila dan gurame.

Saat ini luapan kali mulai surut. Namun, dampak sapuan air bah tersebut menyisakan derita bagi petani tambak. Terlebih banyak petak ikan yang memasuki masa panen. Namun, semua melayang hanyut tersapu banjir.

Sementara itu di bagian lain, petani tambak lele di sebelah utara jalan raya Pantura mulai bersiaga. Mereka bersiap melakukan antisipasi agar ikan lelenya selamat dari terjangan banjir yang bisa datang setiap saat.

Seperti yang dilakukan sejumlah petani lele di Desa Eretan Wetan dan Karanganyar. Yakni dengan cara mengevakuasi atau memindahkan ikan lele ke tempat yang lebih aman.

Evakuasi besar-besaran dilakukan terhadap ikan lele yang masih berusia 15 hari sampai 2 bulan. “Dievakuasi ke tambak yang masih aman dari banjir,” ucap Ayo salah seorang petambak lele. Pemindahan darurat ini, menyusul peristiwa banjir yang menerjang hampir seluruh desa di wilayah Kecamatan Kandanghaur.

Dari pengalamannya, banjir di wilayah pesisir Eretan yang terjadi hampir setiap tahun di musim penghujan, bakal meluas ke daerah lain yang berada di sebelah utara maupun selatan. Termasuk menerjang lokasi tambak lele di wilayah setempat yang jumlahnya mencapai ratusan hektare.

Diakuinya, evakuasi ikan lele bukan berarti tanpa risiko. Pasalnya, dalam proses pemindahan membutuhkan tenaga serta biaya yang tidak sedikit. Ini karena, banyak ikan lele yang mati akibat hanyut terbawa air atau ketika dalam proses pemindahan. “Penyusutannya sampai tiga puluh persen untuk setiap petak,” sebut dia.

Bagi petani yang tidak mau menanggung resiko tersebut, biasanya memilih panen dini. Tentunya dengan harga jual yang jauh lebih murah. Adalagi yang memilih pasrah membiarkan ikan lelenya lenyap hanyut terbawa banjir. (kho)