Petani Diminta Setop Bakar Jerami

oleh -88 views
ASAP JERAMI: Asap pembakaran jerami terlihat di sepanjang jalan pantura Indramayu, kemarin. Petani diajak manfaatkan jerami sebagai pupuk organik.FOTO: ANANG SYAHRONI/ RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU-Memasuki masa panen raya musim tanam rendeng, banyak petani yang membakar limbah panen (jerami). Hal itu dilakukan agar lebih cepat kembali diolah lahannya, marak dilakukan petani. Namun, Pegiat Pertanian Jatibarang, Mara menyebutkan, aksi bakar jerami merupakan langkah keliru jika dimaksudkan untuk menyuburkan lahan sawah.

“Jangan sampai ada anggapan dengan membakar jerami dapat menyuburkan tanah, dan lain sebagainya, itu anggapan yang keliru, perlu diluruskan. Membakar jerami sama saja dengan membakar unsur hara yang ada di dalamnya,” terangnya, Kamis (15/4).

Padahal, menurut Mara, jerami sangat berpotensi sebagai pupuk yang ramah lingkungan dan sangat baik sebagai menyubur tanah apabila petani dapat mengelolahnya secara bijak. Namun, menurutnya, hanya sebagian kecil petani yang mampu mengolah jerami baik sebagai dekomposer dan sebagai pakan ternak (sapi).

“Daripada dibakar asapnya kemana-mana, mencemari lingkungan dan menggangu pengguna jalan seharusnya bisa diolah lagi agar lebih bermanfaat. Harus ada edukasi kepada petani agar tidak membakar  jerami,” tukasnya.

Sementara itu, PPL Ahmad F SP mengatakan, pihaknya selalu melakukan edukasi kepada para petani terkait dampak yang ditimbulkan dari pembakaran jerami mulai dari mengganggu aktivitas masyarakat sampai mencemari udara.

Pihaknya, ikut mengajak masyarakat agar memanfaatkan limbah hasil panen, yaitu jerami jadi dekomposer yang membantu proses penyuburan tanah pertanian.

“Kita juga ingin mengubah kebiasaan petani agar bisa memanfaatkan jeramidengan baik, kita beri pemahaman bahwa jerami memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanah cukup besar,” ujarnya.

Dijelaskannya, berdasarkan sumber BPTP Litbangtan dalam satu hektare tanaman padi sekali panen dapat menghasilkan 5 ton jerami di dalamnya terkandung 30 kg Nitrogen, 7 kg Fosfor, 7 kg Sulfur, 20 kg Kalsium, 5 kg Magnesium, 100 kg Kalium, dan 80 kg Silika.

Sehingga apabila diilustrasi, lanjutnya, 5 ton jerami diperoleh dari hasil panen padi seluas 1 hektare menghasilkan Kalium 100 kg.

“Jika disetarakan dengan pupuk Phonska kandungan Nitrogen 15%, Fospor 15%, dan Kalium  15%. Jadi dalam 100 kg Phonska akan terkandung Kalium 15 kg. Berarti dalam 5 ton jerami mengandung Kalium setara dengan pemberian 667 kg Phonska,” ungkapnya. (oni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *