Permintaan Naik, Pupuk Nonsubsidi Sulit Dicari

oleh -86 views
DOK.RADAR INDRAMAYU

LENGKAP sudah penderitaan petani di musim tanam rendeng tahun 2021 ini. Sudah terpukul gara-gara Kementerian Pertanian mengurangi kuota pupuk bersubsidi. Kini mereka terjungkal lantaran pupuk nonsubsidi mulai sulit dicari.

“Di kios-kios, pupuk yang nonsubdisi sudah mulai jarang tersedia. Padahal biasanya stoknya banyak,” ungkap Samin, salah seorang petani di wilayah Kabupaten Indramayu bagian barat (Inbar) kepada Radar, Rabu (20/1).

Diakuinya, permintaan pupuk nonsubsidi jenis urea maupun NPK memang lagi meningkat tajam. Di awal-awal musim tanam rendeng ini. Untuk pemupukan pertama maupun kedua.

Ramai-ramai dibeli oleh petani yang namanya tidak tercantum dalam data e-RDKK sehingga tidak bisa mendapatkan pupuk subsidi.

Sementara di sisi lain, pupuk nonsubsidi dijual bebas. Berapapun jumlahnya, oleh siapa saja, sekalipun petani dari luar daerah. Sebab tidak dibatasi wilayah atau zonasi.

Sedangkan di sisi lainnya, tidak semua kios memiliki modal besar untuk menyediakan pupuk nonsubsidi dengan jumlah besar. Lantaran harganya terbilang mahal. Berkali-kali lipat dari pupuk subsidi.

“Itu yang bisa saya pahami. Tapi saya khawatir, ini ada permainan. Saat pupuk nonsubsidi benar-benar langka, lalu makin dicari dan harganya pasti tiba-tiba melonjak. Petani kembali jadi korban. Karena itu, pemerintah atau pihak terkait juga harus memperhatikan dan mengawasi ketersediaan pupuk nonsubsidi,” harapnya.

Pemilik kios pupuk, Yoyo membenarkan. Stok pupuk nonsubsidi semakin menipis. Seiring melonjaknya permintaan dari para petani. Penjualannya naik mencapai 10-20 persen dari musim lalu. Diperkirakan terus meningkat, karena belum semuanya areal sawah butuh pupuk. Banyak yang baru tanam padi.

Selain itu, permintaan juga datang dari petani penerima bantuan pupuk subsidi. Untuk mencukupi kekurangan lantaran jatahnya dipangkas. Ditambah lagi, distribusi pupuk subsidi ternyata masih belum sepenuhnya lancar.

Petani lagi butuh-butuhnya, sehingga dipastikan akan membeli pupuk non sobsidi. Walau terpaksa.

Mengantisipasi lonjakan, dia pun sudah meminta distributor untuk segera melakukan pengiriman. Namun entah kenapa, belum juga tiba. “Mungkin terkendala terbatasnya armada pengangkut. Kan semua kios juga butuh dikirim. Terus untuk distribusi pupuk subsidi juga belum beres,” ujarnya.

Yoyo juga ikutan waswas. Dia menduga ada udang dibalik batu dari ketersendatan pengiriman ini. Seperti halnya kenaikan harga pupuk nonsubsidi pada tahun ini yang secara tiba-tiba. Sebagai contoh pupuk jenis urea. Musim lalu, dia beli dari distributor seharga Rp520 ribu per kuintal, sekarang menjadi Rp560 ribu sekuintal.

“Kita jual ke petani Rp580-590 ribu per kuintalnya. Kalau eceran Rp6000 sekilo. Padahal bisa saja jual harga tinggi, kan bukn pupuk subsidi, gak ada HET-nya. Tapi kita kasihan petani. Setidaknya kita bantu petani dengan menjual harga yang wajar,” pungkasnya. (kho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *