Pengusaha Tahu Tempe Mogok Produksi

oleh -64 views
MOGOK : Salah seorang pengusaha tahu tempe di Kelurahan Bojongsari Indramayu, menunjukkan rak tahu tempe yang terlihat kosong karena berhenti produksi, kemarin. FOTO; UTOYO PRIE ACHDI/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU-Tahu tempe merupakan makanan sehari-hari yang kaya akan gizi. Namun sayang, beberapa hari ini warga Indramayu kesulitan mendapatkan tahu tempe.

Salah seorang ibu rumah tangga, Lilis mengaku, sulit mendapatkan tahu tempe saat belanja ke Pasar Indramayu. Padahal itu merupakan makanan kesukaan keluarga.

“Saya ke pasar Indramayu ini untuk beli tahu tempe, tapi ga dapet. Pada nggak jualan,” ungkapnya, Selasa (23/2).

Sementara itu, informasi yang diperoleh Radar, para pengusaha tahu tempe memang sedang mogok produksi. Mereka kecewa karena harga kedelai, yang merupakan bahan baku utama pembuatan tahu tempe, terus naik.

Salah seorang pengusaha tahu tempe dari Blok Bungkul Kelurahan Bojongsari, Roheti mengungkapkan, para pengusaha tahu tempe kecewa karena harga kedelai terus naik. Mereka pun terpaksa mogok produksi. “Kalau tetap dipaksakan produksi, keuntungannya gak ada,” ungkap Roheti.

Dikatakannya, dalam kondisi normal harga kedelai Rp6000/kg, namun saat ini sudah mencapai Rp10 ribu/kg. Bahkan diperkirakan harga akan terus naik dalam beberapa hari kedepan. “Kalau tetap produksi, kami rugi,” ungkapnya.

Roheti menjelaskan, di wilayah Bojongsari terdapat sekitar 25-30 pengusaha tahu tempe. Mereka biasa menjual barang dagangannya ke Pasar Indramayu dan sekitarnya. Mereka berharap pemerintah bisa turun tangan mengatasi persoalan ini.

Roheti mengungkapkan, rata-rata produksi tahu tempe dalam sehari bervariasi antara pengusaha yang satu dengan lainnya. Ada yang hanya mampu produksi setengah kuintal perhari, ada juga yang mampu hingga 4 kuintal perhari.

Sementara, menurut Sari, pengusaha lainnya, untuk membuat tahu tempe mereka terbiasa menggunakan kedelai impor. Kedelai tersebut dikirim dari luar kota.

Menurutnya, penggunaan kedelai impor memang lebih menguntungkan dibandingkan kedelai lokal. “Kalau kedelai lokal hasilnya kurang maksimal karena kurang mengembang. Jadi kami sudah pasti rugi,” ungkapnya. (oet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *