Penggilingan Padi Terdampak Bansos

oleh -62 views
TERDAMPAK BANSOS: Progam bansos berdampak pada aktivitas pabrik penggilingan padi serta penjualan beras di tingkat pedagang. FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU – Program bantuan sosial (bansos) berdampak terhadap nasib pabrik penggilingan padi. Terutama skala menengah dan kecil. Usaha mereka kembang-kempis.

Saat bansos di mana salah satu komponennya adalah beras disalurkan, sebagian besar pabrik memilih stop poduksi. Baru kembali operasional setelah bantuan bagi masyarakat terdampak pandemi Covid-19 itu lewat satu hingga dua pekan kemudian.

“Buka-tutup saja, lihat waktu penyaluran bansos,” ujar Uton, pengelola pabrik penggilingan padi di wilayah Kabupaten Indramayu Barat (Inbar), Jumat (8/1).

Namun, saat ini, yang berbarengan dengan datangnya musim paceklik, lanjut dia, pabriknya malah keseringan tutup. Menyusul makin mahalnya bahan baku gabah di tingkat petani. Sekarang sudah hampir mencapai Rp600 ribu per kuintal.

Bapak tiga orang anak ini menuturkan, sejak adanya program bansos, turut berdampak pula pada harga dan permintaan beras. Yang ikut naik-turun mengikuti waktu penyaluran bansos.

“Naik-turun juga harga berasnya. Kita buka pabrik kalau ada permintaan saja, atau harganya lagi bagus. Perdagangan beras memang tidak karu-karuan sejak adanya bansos,” ungkap dia.

Kondisi itu dibenarkan bandar beras, Casmari. Sejak adanya program bansos, permintaan beras dari konsumen cenderung turun. Pasalnya,  sebagian masyarakat saat ini tidak melakukan pembelian beras dalam jumlah besar di pasar.

“Kalau tidak ada bansos, harga beras dan permintaan bisa naik karena sekarang belum datang musim panen,” ujarnya. (kho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *