Pemilik Lahan Tolak Harga, Dinilai Terlalu Murah

oleh -366 views
Ketua Kelompok Pemilik Lahan Kecamatan Balongan H Sugono (kanan) didampingi Yudi, mengadukan harga lahan kepada Radar Indramayu

INDRAMAYU – Para pemilik lahan persawahan yang tergabung dalam wadah paguyuban petani pemilik lahan wilayah Kecamatan Balongan, mendatangi kantor Radar Indramayu, Kamis (18/2). Kedatangan mereka guna menyampaikan persoalan harga ganti rugi lahan persawahan yang dinilai terlalu murah.

Dari hasil kajian Konsultan Jasa Penilai Publik (KJPP) bahwa harga lahan persawahan yang akan gunakan mega proyek Pabrik Petrochemical itu dinilai tak sesuai dengan harapan masyarakat pemilik lahan.

Untuk harga lahan persawahan kelas satu Rp 429 ribu per meter, kelas Rp 230 ribu per meter dan harga tanah darat atau pekarangan mencapai Rp 800 ribu per meter.

“Yang jelas. kami bersama pemilik lahan persawahan menolak dengan hasil kajian KJPP. Harga tersebut dinilai memberatkan pemilik lahan persawahan,”jelas Ketua Paguyuban Pemilik Lahan Kecamatan Balongan H Sugono kepada Radar Indramayu, Kamis (18/2) malam.

Sugono menegaskan, PT (persero) Pertamina dan para pemangku kepentingan supaya meninjau ulang harga lahan persawahan. Sebab, harga yang ditaksir KJPP itu telalu murah dan sangat merugikan petani setempat.”Bukannya kami menuntut harga mahal. Akan tetapi, kalau bisa jangan terlalu jauh harganya dengan Desa Sumurgeneng Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban Jawa Timur,”imbuhnya.

Ditambahkannya, tuntutan para petani tidak terlalu tinggi seperti di Desa Sumurgeneng, tapi bisa di bawahnya juga sudah bagus. Pria Kelahiran asal Desa Tugu Kecamatan Sliyeg bersama pemilik lahan meminta harga Rp 700 ribu per meter lahan persawahan untuk kelas satu.

Sedangkan tanah kelas dua, ia minta dihargai 600 ribu per meter, dan tanah darat Rp 2,5 juta per meter. Pada dasarnya, lanjut dia, warga pemilik lahan ingin ada keterbukaan harga dengan pihak Pertamina. Bukan dengan pihak lain yag tidak berkompeten dalam persoalan harga tersebut.

Hal senada di ungkapkan Muhammad Wahyudi Tohir (62), Dia bersama pemilik lahan persawahan tidak ada niatan untuk menghalangi pekerjaan proyek. Hanya yang menjadi persoalan adalah uang ganti rugi, masih belum sesuai dengan keinginan mereka.”Selama uang ganti rugi lahan belum ada kenaikan, maka mereka tetap menolak. Saya hanya minta tambahan harga, bukan menolak mega proyek yang akan di bangun di Indramayu,”pungkasnya. (tim/adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *