Pedagang Beras Terancam Gulung Tikar

oleh -134 views
TERANCAM: Perdagangan beras skala kecil terancam gulung tikar di tengah ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU-Bisnis jual beli beras diprediksi makin terpuruk. Selain karena pandemi Covid-19, kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap para pelaku usaha perdagangan beras khususnya di wilayah pedesaan, memperpanjang masa-masa suram di tahun 2021.

Para pedagang beras terutama skala kecil terancam gulung tikar di tahun kerbau logam ini. “Diprediksi bangkrut, atau setidaknya setengah bangkrut,” ucap Bakir, pedagang beras di Kecamatan Bongas, Kamis (21/1).

Alasan utamanya, sebut dia, daya beli masyarakat masih tetap menurun. Ditambah lagi tidak adanya acara pesta hajatan akibat pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi Covid-19.

Padahal setiap ada penyelenggaraan pesta hajatan warga, mampu mendongkrak penjualan beras. “Tahun 2019, waktu masih normal, masih dapat omzet Rp11 juta per bulan. Tahun kemarin 2020, anjlok cuma dapat Rp5 jutaan sebulan,” sebut dia. 

Kemudian, tertekannya perdagangan beras lantaran terdampak adanya program bantuan sosial dari pemerintah yang salah satu komponennya adalah beras.

Menurut Bakir, program bantuan pangan non tunai itu sebenarnya bisa menghidupkan keberlangsungan usaha para pedagang beras lokal jika dalam pengadaannya mereka dilibatkan.

Tapi sayangnya pemerintah justru menggandeng korporasi besar. Seperti BUMN maupun BUMD. “Padahal secara harga dan kualitas, kami berani bersaing. Tapi kami kalah kuasa dan kekuatan,” ungkapnya.

Bandar beras, Carsono menambahkan, pemangkasan kuota pupuk subsidi juga bisa mendorong bisnis beras bakalan kolaps. Harga gabah akan mengalami kenaikan tajam. Sebab, biaya operasional petani membengkak untuk membeli pupuk nonsubsidi.

“Tahun-tahun lalu saja harga gabah selalu naik. Apalagi nanti. Petani pakainya pupuk nonsubsidi. Gak kebayang harga gabah nanti berapa,” ujarnya.

Carsono membenarkan, program bansos juga sangat berdampak terhadap nasib pabrik penggilingan padi. Terutama skala menengah dan kecil. Usaha mereka kembang kempis. Lebih banyak tutup ketimbang produksi. (kho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *