Pamong Kelilingi Desa dan Sawah, Bawa Air dari 9 Sumber Mata Air

oleh -130 views
LESTARIKAN TRADISI: Pamong Desa Cempeh, Kecamatan Lelea bersiap-siap berkeliling desa setemoat dalam upacara adat Mapag Tamba, kemarin. FOTO: ANANG SYAHRONI/ RADAR INDRAMAYU

Sejumlah desa yang mayoritas petani memiliki tradisi yang khas. Salah satunya ritual Mapag Tamba yang dilakukan warga dan Pemdes Cempeh Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu. Apa saja ritualnya?

ANANG SYAHRONI, Lelea

SEJAK pagi sekitar pukul 05.30 WIB, kuwu beserta perangkat Desa Cempeh sudah bersiap melakuan ritual Mapag Tamba.

Mereka berpakain serba hitam khas petani. Dengan membawa bilah bambu yang berisikan air suci dari 9 mata air yang berasal dari sumur tua dan laut, pamong desa yang sudah dibagi dalam beberapa kelompok itu, disebar ke penjuru desa.

Masing-masing kelompok akan berjalan menempuh jarak yang sebelumnya sudah ditentukan secara bersama-sama sampai seluruh desa. Tidak hanya itu, mereka juga harus mengelilingi areal persawahan sekitar 640 hektare.

Para pamong desa yang bertugas mengelilingi desa dan sawah ini juga harus puasa bicara. Mereka tidak boleh mengeluarkan sepatah katapun atau berbicara mulai dari keluar dari kantor kuwu (kepala desa) sampai datang kembali di kantor kuwu setempat.

Kuwu Desa Cempeh, Carkana mengatakan, tradisi Mapag Tamba ini hanya digelar setiap musim tanam saja, saat usia taman padi sudah berumur 40-50 hari. “Waktu pelaksanaannya juga harus dilakukan sebelum matahari terbit,” katanya. Dikatakan, kuwu yang akrab disapa Nana ini, mayoritas masyarakat yang berprofesi  sebagai petani, percaya dengan digelarnya ritual ini dapat membawa berkah berupa panen melimpah dan terhindar dari hama yang dapat merusak tanaman.

“Intinya menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang dan melestarikan kearifan lokal, di samping doa bersama meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapat berkah dan hasil panen yang melimpah,” tukasnya.

Sebetulnya, lanjut Nana, acara sudah dimulai sejak malam hari, dimana pemdes dan warga menggelar doa dan tahlilan bersama yang dipimpin pemuka agama. “Kami meminta ridho dari Allah SWT agar hasil pertanian kami melimpah,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *