Hilangnya Nilai Sila ke-4 dalam Pemilihan Kuwu di Indramayu

oleh -162 views
Sulthan Haidar Dziban


PELAKSANAAN pemilihan kuwu (Pilwu) serentak di Kabupaten Indramayu akan diselenggarakan pada tanggal 2 Juni 2021 mendatang. Berdasarkan laporan panitia Pilwu Tingkat Kabupaten Indramayu, sebanyak 171 desa yang sudah siap akan menggelar kegiatan pesta demokrasi di tingkat desa.

Pemerintah Kabupaten Indramayu telah menganggarkan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Indramayu sebesar Rp36 miliar. Hal ini demi suksesnya Pilwu yang menghasilkan pemimpin amanah.

Pemilihan kuwu ini merupakan penjabaran dari Pancasila sila ke-4. Isi dari sila ke-4 adalah  kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Seperti yang kita ketahui bahwa makna yang terkadung dari sila-sila Pancasila sendiri tidak dapat kita artikan begitu saja. Banyak sekali makna tersirat yang tedapat dari tiap sila di tubuh Pancasila, dan untuk pemilihan umum sendiri merupakan salah satu bentuk penerapan dari sila ke-4.

Melalui pemilihan yang diselenggarakan ini,  pemerintah sama saja menjamin rakyatnya melakukan demokrasi. Dan, demokrasi yang dimaksud disini adalah demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila sendiri dapat dibilang sebagai wadah atau pun sarana bagi rakyat untuk membentuk suatu kekuasaan yang didasarkan pada kedaulatan rakyat.

Namun, walaupun pemilihan merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Pancasila sila ke-4. Yakni, masih banyak sekali ditemukan politik kotor, contohnya money politics yang terjadi di sekitar kita. Jika dibiarkan, saya sebagai penulis takut kerakyataan di negeri kita tidak lah lagi berdasar permusyawaratan, melainkan berdasar seberapa besar uang yang dikeluarkan.

Di zaman sekarang ini, money politics tidak lah menjadi hal yang tabu lagi bahkan terkadang orang-orang sudah seperti terhipnotis oleh cara politik ini. Bahkan, lebih parah lagi, mereka sudah masa bodoh dengan nilai-nilai di sila Pancasila. Dan, ada dari mereka yang mengatakan bahwa Pancasila itu tidak tepat untuk negara kita.

Jika ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa Pancasila tidaklah cocok menjadi dasar negara kita. Maka pihak tersebut dapat dibilang salah besar, karena kita semua tahu bahwa Pancasila sudah menempuh cerita dan jalan yang panjang, dan berdasarkan sejarahnya sendiri.

Siapa pun yang ingin mengubah dasar negara kita menjadi bukan Pancasila, maka rencana tersebut pasti gagal. Misalnya peristiwa G30S/PKI yang pada saat itu ada beberapa pihak yang ingin mengubah dasar negara Pancasila menjadi negara komunis, dan peristiwa tersebut gagal, hingga pada akhirnya tercetuslah yang dinamakan kesaktian Pancasila.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tiap ideologi memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Bapak pendiri negeri kita yaitu Soekarno melihat bahwa Pancasila merupakan perwujudan kelebihan dari tiap-tiap ideologi. Baik itu ideologi liberalisme, sosialisme ataupun ideologi yang lainnya. Bahkan isi dari ideologi Pancasila sendiri sangatlah pas dengan jati diri negara kita.

Pancasila juga sangat selaras dengan rakyatnya, bahkan ada yang mengatakan sebenarnya rakyat Indonesia sudah menjalankan Pancasila sejak dahulu bahkan saat sebelum Pancasila sendiri lahir.

Lantas mengapa sampai hari ini masih ada saja pihak yang masih belum mengerti makna dari Pancasila itu sendiri. Bahkan ada beberapa yang masih ingin mengubah dasar negara kita? Sebagai penulis, sebenarnya Pancasila itu sudah sempurna hanya individunya saja yang salah, seperti pernyataan salah satu dosen di UII, yaitu Handri Raharjo SH MH bahwa “Pancasila itu tidak pernah salah, tapi yang salah adalah individu-individunya saja”.

Menurut beliau masih banyak orang yang belum mengerti makna mendalam dari Pancasila itu sendiri, namun sayangnya tiap individu tadi malah mengecap bahwa Pancasila tidak pas untuk Indonesia, padahal jelas-jelas Pancasila lah yang terbaik untuk negara kita.

Sebagai penulis berharap dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh negara ini, masyarakat Indonesia lebih memahami betul tentang dasar negaranya sendiri. Agar tidak ada lagi kesalahpahaman. Sebagai orang Indramayu juga berharap pemilihan kuwu pada bulan Juni memdatang, dapat terlaksana dengan kondusif dan tentu saja berdasarkan pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerinta. (*)

Oleh: Sulthan Haidar Dziban*

*) Penulis adalah Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional FPSB UII 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *