Hattrick Banjir, Saluran Pembuang Dangkal

oleh -44 views
HATRICK: Tiga kali dalam kurun waktu setengah bulan, Desa Limpas, Kecamatan Patrol diterjang banjir. Pendangkalan dan penyempitan saluran pembuang dituding menjadi penyebabnya. FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

BENCANA banjir yang merendam Desa Limpas jadi sorotan. Bagaimana tidak, fenomena ini seakan jadi bencana rutin yang terjadi di desa paling selatan di wilayah Kecamatan Patrol itu.

Dalam dua pekan bulan ini saja, banjir sudah tiga kali menggenangi pemukiman warga di desa seluas 510 hektare tersebut. Musibah banjir pertama terjadi Senin (8/2) lalu. Berselang seminggu kemudian, banjir kembali datang pada Senin (15/2) kemarin.

“Sekarang banjir lagi. Berarti ini sudah yang ketiga kalinya, kaya minum obat,” sebut tokoh masyarakat setempat, Tato kepada Radar, Jumat (19/2).

Sama seperti dua kejadian sebelumnya, banjir kali ini juga merendam ratusan unit rumah warga serta fasilitas umum. “Tahun-tahun lalu juga begitu. Banjir sampai berkali-kali,” ujarnya.

Selain intensitas hujan yang memang tinggi. Faktor lain penyebab terjadinya luapan banjir tak bisa serta merta dilepaskan.

Menurut Tato, banjir dipicu oleh pendangkalan dan penyempitan saluran pembuang yang berada dipinggir jalan raya Patrol-Haurgeulis. Saat musim penghujan, air kiriman dari hulu meluap. Meluber ke wilayah permukiman penduduk. Sulit surut. Mengingat, Desa Limpas merupakan dataran rendah.

Tak hanya sedimentasi. Sampah kiriman juga mengakibatkan aliran air tersumbat sehingga rawan terjadi luapan. Banyak sampah yang masuk ke dalam gorong-gorong dan menyebabkan sumbatan.

Bahkan di musim penghujan ini, sampah kiriman tidak pernah berhenti menyesaki saluran pembuang. “Nyangkut di jembatan sudah dibersihkan warga, besoknya sudah banyak lagi,” keluh dia.

Mantan Kuwu Desa Limpas ini mengungkapkan, sejatinya, upaya normalisasi rutin dilakukan sejak masa kepemimpinanya. Selama 6 tahun, kontinyu melaksanakan kerja bakti. Melibatan anggota TNI, Polri, Pemerintah Desa dan masyarakat.

“Tapi sebatas manual. Tidak optimal. Harus dilakukan normalisasi menggunakan alat berat. Sudah saya sampaikan sejak lama kepemerintah daerah, sampai sekarang belum terwujud,” ungkapnya. (kho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *