Geger! Semburan Api di Desa Pagedangan

oleh -167 views
MENYALA: Sumur migas eks kolonial Belanda di Blok Cilumbu Desa Pagedangan Kecamatan Tukdana mengeluarkan semburan api, akhir pekan kemarin.FOTO: ANANG SYAHRONI/ RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU- Warga Desa Pagedangan, Blok Cilumbu digemparkan dengan semburan lumpur yang berubah menjadi kobaran api, Minggu (4/4).

Sekdes Pagedangan, Ade Supriyatna menyebutkan, sebelum muncul kobaran api, di lokasi itu muncul semburan lupur bercampur gas pada Oktober satu tahun lalu. Namun, sejak Jumat malam, 2 April 2021, semburan lumpur tersebut mengeluarkan api. Semburan tersebut diduga dari sumur migas peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

“Api pertama muncul pada hari Jumat tanggal 2 April, kurang lebih setinggi 5 meteran. Sejak terjadi semburan pertama hanya lumpur bercampur air disertai bau gas, sekarang setelah api menyala tidak lagi ada bau gas yang menyengat,” ujarnya.

Dikatakannya, pemerintah desa telah melaporkan ke BPBD Kabupaten Indramayu dan pihak Pertamina EP Asset III Jatibatang Field. Sementara, petugas kepolisian telah mengamankan lokasi sumber semburan dengan memasang garis polisi mengelilingi lokasi semburan.

Sementara itu, Plt Sekertaris BPBD Kabupaten Indramayu, Dr Caya mengatakan, peristiwa semburan pertama terjadi pada bulan Otober 2020, dimana di lokasi itu terjadi semburan lumpur dengan mengeluarkan suara keras dan bau. “Tetapi saat ini tidak bau karena gas terbakar,” katanya.

Diakui Caya, masyarakat khawatir karena

kejadiannya hampir berbarengan dengan ledakan tangki di Balongan, padahal tidak sama.

Dijelaskan Caya, sejak semburan pertama tahun 2020, pihaknya telah  mempertemukan masyarakat yang terdampak dengan pihak PT Pertamina EP Asset III Field Jatibarang. Saat itu, Pertamina siap membantu masyarakat, dengan cara menyalurkan semburan gas bercampur lumpur tersebut melalui pemasangan pipa dari lokasi semburan ke area BDA milik Pertamina di Desa Pagedangan dengan jarak sekitar 2 kilometer sehingga harus melewati areal sawah milik warga.

Namun, masyarakat terdampak ingin adanya kompensasi, tetapi Pertamin tidak bisa dengan alasan bahwa sumber semburan bukan berasal dari sumur milik Pertamina melainkan dari sumur migas eks Belanda. “Hasilnya deadlock,” ujarnya.

Caya mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada, tidak mendekati area yang telah dibatasi garis polisi. Selain itu, Caya meminta pemcam dan pemdes mengedukasi masyarakat bahwa semburan itu tidak berbahaya karena berasal dari sumur migas, bukan seperti tangki di Balongan. “Nanti akan ada upaya pembahasan kembali yang dofasilitasi pihak kepolisian bersama masyarakat yang terdampak saja, semoga masyarakat paham,” pungkasnya. (oni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *