Gadis Yatim Piatu Berjuang Mencari Keadilan, Dicibir Tetangga dan Dijauhi Keluarga

oleh -1.500 views
FQ ketika berbincang bersama Radar Cirebon di kantor hukum Dwiko Adrians and Partners (DAP) Law Office di Kedawung, Jumat lalu (18/10). FOTO:ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

Pelaku semakin mejadi-jadi. Panggilan video tanpa busana itu rupanya menjadi amunisi tambahan. Saat berlangsungnya panggilan, pelaku merekam dan kembali dijadikannya sebagai ancaman. Namun, kali ini tujuannya berbeda. Pelaku memeras dan meminta uang sebesar Rp36 juta. FQ tidak mengetahui jika panggilan video itu direkam oleh pelaku dan ia pun tidak mampu memenuhi permintaan uang tersebut.

Sambil terus memaksa, hingga pelaku menurunkan permintaannya menjadi Rp15 juta. “Kemudian saya gak respon, dan belum lama ini dia (pelaku, red) meminta lagi sebesar Rp5 juta dan dikasih tempo dalam waktu 3 hari,” ujarnya.

Ancaman itu benar dilakukan. Karena tidak mampu memenuhi, sebagian video FQ disebar ke sosial media, grup-grup WhatsApp hingga prostitusi online dan grup komunitas gay. Akibatnya, paras FQ semakin dikenal banyak orang. Tetangga dan lingkungan sekitar, mulai sinis dan menjauh. Tidak jarang, laki-laki hidung belang datang ke rumah FQ. Sekadar mengajak kencan hingga ‘pesan kamar’. Kerugian moril dan materil diterima FQ. Selain diasingkan, untuk mencari pekerjaan pun, sangatlah sulit.

Kejadian itu membuatnya putus asa. Merasa takut keluar rumah dan memilih mengurung diri di kamar. Rasa ingin bunuh diri selalu singgah. Beruntung, hal tersebut tidak dilakukan. Hingga pada akhirnya FQ memberanikan diri untuk melapor dengan didampingi lurah. Beruntungnya lagi, ia mendapatkan pendampingan hukum oleh advokat dan konsultan hukum, Dwi Sesko Adriansah SH dari kantor hukum Dwiko Adrians and Partners (DAP) Law Office.

Dwi Sesko atau yang biasa disapa Abu ini akhirnya melaporkan kasus tersebut kepada Satreskrim Polres Indramayu, belum lama ini. Pasal yang disangkakan kepada pelaku adalah UU ITE. Abu mendesak keras aparat kepolisian segera menangkap pelaku yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.

“Saya harap Satreskrim Polres Indramayu bertindak profesional dan tidak tebang pilih. Kalau publik figur atau artis cepat mendapatkan tindak lanjut, harusnya kasus ini sama. Karena kita semua terlihat sama di mata hukum,” tandasnya.

Abu mengaku sempat meminta penjelasan langsung kepada psikolog mengenai rekaman video FQ dengan pelaku berinisial DA itu. Saat itu, kata Abu, psikolog menilai, FQ dalam raut wajah tertekan dan sangat terpaksa melakukannya.

Meruntun perkenalan pelaku dan FQ, yakni pada Februari 2013 silam. Saat itu FQ berkenalan dengan pelaku DA melalui Facebook. DA, laki-laki asal Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Saat itu komunikasi rutin terjalin hampir setiap harinya. Bermodalkan informasi akun, FQ tidak menaruh curiga. Berjalan 3 bulan, komunikasi itu mulai memudar.

“Awalnya komunikasi hanya sekedar say hello aja. Saya menganggapnya juga sebatas teman chatting. Kalau dilihat dari akun Facebook pelaku (DA, red) memang dia banyak teman wanitanya,” tutur FQ, menyesal telah berkenalan.

FQ merupakan anak yatim piatu. Sang ibunda telah meninggal dunia ketika usianya 5 tahun. Saat itu, anak ke-3 dari 5 bersaudara ini sebatas gadis perempuan lugu yang duduk di bangku taman kanak-kanak. Tahun 2015, menyusul ayahanda berpulang. Kesedihan dan rasa kehilangan FQ, semakin memuncak.

No More Posts Available.

No more pages to load.