Berdayakan Masyarakat Desa, Produk Tembus Pasar Luar Negeri

oleh -238 views
MENDUNIA: Tarjaya, pemuda asal Desa Larangan Kecamatan Lohbener memperlihatkan replika ayam yang berhasil tembus ke pasar luar negeri, kemarin. FOTO: ANANG SYAHRONI/ RADAR INDRAMAYU

Berawal dari banyaknya limbah bulu ayam dan busa kursi sofa yang tidak terpakai, membuat Tarjaya menjadi jutawan. Lewat proses kreatifnya, Tarjaya menyulap limbah-limbah itu menjadi kerajinan boneka atau replika ayam yang mendunia. Keren!

ANANG SYAHRONI, Lohbener 

TIDAK hanya menjadi jutawan, berkat kerja keras dan kreativitas warga yang tinggal Blok Ceplik, Desa Larangan Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu itu, bisa menghidupkan ekonomi kreatif di desanya.

Tarjaya juga tidak menyangka, kegiatan kerajinan tangan yang digeluti sejak tahun 2018 dengan memanfaatkan limbah bulu ayam dan busa itu, bisa berbuah manis.

Hasil karyanya ini  tidak hanya menghidupkan perekonomian keluarga tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar.

Produknya menjadi booming dan mulai dikenal banyak orang dari dalam dan luar negeri, ketika meng-apload foto porduknya itu lewat jejaring sosial. “Di luar dugaan banyak yang suka,” ujarnya.

Melihat respon masyarakat yang sangat besar, Tarjaya tidak melewatkan kesempatan itu dengan memproduksi replika ayam dalam jumlah banyak. “Dalam sehari saya bisa memproduksi enam sampai sepuluh buah replika ayam. Alhamdulillah, sejak banyak pesanan bisa membantu warga sekitar yang butuh pekerjaan,” ujar Tarjaya kepada Radar Indramayu, Selasa (19/10).

Berkat usahanya yang berkembang, dirinya saat ini memberdayakan delapan pemuda desa dari berbagai latar belakang sosial. “Ada dari anak punk yang ingin berubah ya saya rekrut,” katanya.

Dengan memberdayaan masyarakat sekitar, keberadaan tempat produksi Tarjaya, sangat dirasakan pekerja sehingga dapat meningkatkan penghasilan keluarga.

Bahkan, hasil produksinya tidak saja diterima di pasar nasional tetapi juga tembus ke pasar luar negeri atau internasional, seperti Inggris, Jerman, Meksiko, India, Amerika, Irlandia, dan Australia.

“Pemasaraanya lewat jejaring sosial, dan market place. Dalam sehari bisa mengirim pesanan 8 sampai 10 pices,” ungkapnya.

Untuk harga, Tarjaya membanderol produknya mulai dari Rp250 ribu sampai Rp300 ribu.

“Untuk pesanan luar negeri juga kita pakai jasa pengiriman, langsung ke alamat pemesan karena yang pesan itu perorangan,” katanya.

Tarjaya bersyukur, hobi yang dulu digelutinya menjadi berkah tidak hanya bagi dirinya dan keluarga, namun bagi orang lain.

Dikatakan Tarjaya, usahannya saat ini masih dilakukan secara mandiri, baik dari  modal maupun tempat produksi yang seadanya. Dengan pengelolaan yang serba mandiri itu, Tarjaya mengaku, omzetnya tidak menentu tetapi kisaran di angka Rp50 juta per bulan.

Tarjaya berharap, ada bantuan dari pemerintah dalam membantu mengembangkan usahanya. “Saya berharap ada perhatian pemerintah karena dengan usaha ini berkembang maka semakin banyak juga warga desa yang diikut bekerja,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.