Bank Indonesia Dorong Pengolahan Lahan Organik

oleh -79 views
ORGANIK: Jajaran BI Jawa Barat bersama Pemda Indramayu menunjukan hasil padi hasil pengolahan secara organik oleh Poktan Sri Makmur III di Desa Jatisawit Lor, Kecamatan Jatibarang, kemarin. FOTO: ANANG SYAHRONI/ RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU- Bank Indonesia di Wilayah Jawa Barat melaksanakan program pengembangan klaster pangan. Saat ini, tercatat 60 klaster pangan mitra BI di Wilayah Jawa Barat, termasuk di wilayah Priangan Timur dan Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning).

Salah satu metode yang diperkenalkan dalam pengembangan pertanian klaster mitra nya adalah integrated ecofarming berbasis microbakter alfaafa (MA-11).

Metode ini dipilih dengan pertimbangan untuk melakukan sistem budi daya pertanian yang ramah lingkungan (zero waste), meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan (sustainable farming) dan menghasilkan produk pangan sehat.

Demikian disampaikan Kepala BI Jawa Barat Herawanto, saat menghadiri panen bersama demplot padi organik Poktan Sri Makmur III di Areal Pertanian Desa Jatisawit Lor Kecamatan Jatibarang, sekaligus penyebarahan batuan untuk Poktan Sri Makmur III dan Gapoktan Mulus, kemarin.

Herawanto mengatakan, Indramayu sebagai lumbung pangan bukan saja di Jawa Barat, namun juga nasional, membutuhkan peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.

Sehingga, diperlukan langkah perbaikan, karena masifnya penggunaan pupuk kimia dimana cost-nya lumayan mahal, dan sifatnya mendegradasi kualitas tanah secara berkelanjutan.

“Untuk itu, melalui BI Cirebon menggandeng Prof Nugroho ahli pupuk organik dengan MA 11 nya mengenalkan cara bertani organik, yang Insya Allah akan menjamin perbaikan mutu tanah secara berkelanjutan dengan hasil panen yang memuaskan,” ungkapnya.

Dijelaskannya, implementasi integrated ecofarming berbasis microbakter alfaafa (MA-11) yang full organik, dibuktikan hasil panen yang biasanya pertanian konvensional menghasilkan 5-7 ton per hektare, namun 1 kali treatment penggunaan MA 11 menjadi 10-11 ton per hektare.

Kemudian, kata Herawanto, dari segi biaya lebih rendah dapat memangkas 30 sampai 40 persen dibandingkan penggunaan pupuk kimia.

“Mutu tanah bagus, ketika labelnya adalah organik maka kesempatan petani untuk mendapatkan harga yang lebih bagus di pasar itu jauh lebih terbuka,” jelas Herawanto.

Untuk menjamin produk padi organik terserap di pasar, Herawanto menegaskan, hal ini turut menjadi perhatian dari Bank Indonesia (BI). Salah satunya, dengan bekerja sama dengan food station yang merupakan BUMD DKI Jakarta.

“Kemudian BI selalu selalu memikirkan harga di dua sisi yaitu dari sisi konsumen dan sisi produsen, keduanya harus saling menguntungkan,” ujarnya.

Pada kesempatam itu juga, Bank Indonesia menyalurkan bantuan yang diharapkan dapat mendukung program peningkatan produktivitas pertanian berupa sarana produksi dan alat mesin pertanian kepada Kelompok Sri Makmur III dan sarana pendukung sekretariat koperasi, bangunan kios, serta kendang ternak kepada Gapoktan Koperasi Tani Mulus.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi XI H Satori mengatakan, sebagai mitra BI pihaknya mendukung penuh langkah BI yang memberikan motivasi kepada Poktan di Kabupaten Indramayu, sebagai lumbung pangan nasional.

Salah satunya dengan memberikan bantuan dan pendampingan penggunaan pupuk organik, dan terbukti mampu meningkatkan hasil produktivitas padi yang kurang maksimal bisa lebih dari maksimal, dengan biaya produksi yang lebih rendah.

“Jelas motivasi dan dukungan anggaran, kami komisi XI sebagai mitra kerja BI, Insya Allah mungkin berapapun nilai anggaran yang diusulkan khususnya untuk Poktan di Indramayu secara pribadi dan lembaga kami menyetujui,” ujarnya. (oni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.