oleh

Tumpeng Raksasa Hiasi Sedekah Bumi, Pemdes Larangan Tetap Terapkan Disiplin Prokes

INDRAMAYU- Sebagai wujud rasa syukur terhadap hasil bumi yang melimpah, Pemerintah Desa (Pemdes) Larangan, Kecamatan Lohbener menggelar acara sedekah bumi, di halaman balai desa setempat, Rabu (18/11).

Acara yang bekerjasama dengan Karang Taruna Bagus Rangin, lembaga desa, Ketua RT/RW dan tokoh masyarakat itu diawali dengan iring-iringan ibu-ibu yang membawa tumpeng.

Bahkan, dalam acara itu ada tumpeng raksasa ukuran 1 meter dengan berat 50 kg yang diberi nama tumpeng siwar siwur. Tumpeng yang dibuat warga Blok Ceplik RT 05 dan 06 ini diletakkan di atas tandu dan dipikul oleh empat orang warga.

PUKUL GONG: Kuwu Larangan Masedi memukul gong sebagai tanda berakhirnya rangkaian acara sedekah bumi.

Kuwu Desa Larangan Masedi mengungkapkan rasa bangga atas kreasi tumpeng raksasa pada adat sedekah bumi. Meskipun upacara adat sedekah bumi kali ini dilaksanakan sangat sederhana dan menerapkan disiplin protokol kesehatan (prokes), namun tidak mengendorkan kreativitas warga untuk membuat tumpeng dengan ukuran jumbo.

“Terima kasih kepada seluruh warga desa Larangan atas kekompakan serta kebersamaan. Walaupun pelaksanaan sedekah bumi sangat sederhana karena masih dalam masa pandemi akan tetapi antusias warga sangat tinggi,” katanya.

Dijelaskan Masedi, sedekah bumi adalah salah satu cara yang dilakukan warga khususnya petani, dimana sebuah ritual yang sakral memohon kepada Allah SWT agar pada musim tanam yang akan dilakukan mendapatkan hasil yang memuaskan dan berlimpah. Selain itu, lanjutnya, acara sedekah bumi yang dilaksanakan setiap tahun juga merupakan sarana ajang silaturahmi antar warga dengan pemerintah desa.

“Kegiatan ini melambangkan rasa syukur terhadap Allah SWT yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi, kesehatan serta keselamatan kepada masyarakat serta memohon keselamatan untuk waktu yang akan datang,” papar Masedi.

Menurutnya, sebelum puncak acara sedekah bumi, semua elemen masyarakat Larangan mengadakan tahlil dan doa bersama di Aula Desa Larangan, memohon dan berharap apa yang akan dilakukan khususnya petani mendapatkan hasil yang memuaskan dan berlimpah.

Dalam kesempatan itu, sebagai kuwu yang terpilih selama dua periode, Masedi meminta maaf kepada seluruh masyarakat Desa Larangan jika apa yang menjadi kehendak dan keinginan masyarakat belum bisa terpenuhi selam masa kepemimpinannya.

“Atas nama pribadi dan keluarga saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kesalahan dan kealpaan dan jika selama menjabat menjadi kuwu Desa Larangan belum bisa memenuhi keinginan masyarakat, kami minta maaf,” tuturnya.

Sementara itu, seorang tokoh pemangku adat Sudirah mengatakan, sedekah bumi adalah simbol yang dilakukan petani dimana sebelum melaksanakan masa tanam petani selalu melakukan upacara adat sedekah bumi yang bertujuan untuk keberhasilan hasil panen yang berlimpah serta terhindar dari segala bentuk hama atau penyakit.

Selain itu, sambung Sudirah, sedekah bumi juga bisa diartikan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas segala nikmatnya, khususnya petani.  “Mari sama-sama menjaga dan melestarikan adat yang ditinggalkan oleh para leluhur kita dan dengan menjaga sekaligus melestarikan adat serta budaya kita bisa memberikan suatu peninggalan untuk anak cucu kita nanti,” tukasnya. (oni/adv)

News Feed