oleh

PKK Gedangan Libatkan Kaum Perempuan, Kue Dibagikan untuk Warga Desa

-Indramayu-116 views

Setiap memasuki bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Islam (Hijriah), PKK Gedangan Kecamatan Sukagumiwang selalu membuat kue apem. Hal ini dilakukan, sebagai langkah mempertahankan tardisi leluhur secara turun temurun. Bagaimana suasananya?

ANANG SYAHRONI, Sukagumiwang

PULUHAN emak-emak di kediaman Kuwu Desa Gedangan tampak semringah, kemarin. Diselingi tawa dan canda, mereka tengah sibuk membuat dan membolak-balik adonan kue apem.

Ya, setiap bulan Safar, pihak desa melalui PKK setempat selalu membuat kue apem alias cimplo. Ribuan kue itu dibagikan bagi warga desa. “Pembuatan kue apem atau cimplo ini merupakan upaya mempertahankan tradisi leluhur secara turun temurun, dimana setiap bulan Safar selalu membuat kue apem atau cimplo,” tutur Ketua TP PKK Gedangan Sri Leliyah kepada Radar, Rabu (30/9).

Untuk itu, lanjut Sri Leliyah, pihaknya melibatkan emak-emak dari kader PKK untuk membuat kue apem. “Bagi masyarakat Jawa, kue ini tidak asing, dan kami ingin tetap mempertahankan tradisi membuat kue apem ini,” ujarnya.

Dikatakan Sri, menurut literasi yang dibacanya kue apem atau cimplo memiliki nilai filosofi yakni menjadi simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan. “Yang kita baca, apem dari bahasa Arab, afwan, tetapi karena orang Jawa agar lebih mudah mengucapkan jadi apem. Sedangkan di Indramayu lebih akrab disebut kue cimplo,” terangnya.

Lebih lanjut, dikatakan Sri, pembuatan kue apem yang dilakukan secara bersama-sama dan dibagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma, memiliki makna yang menunjukkan bahwa masyarakat desa saling peduli dan membantu sesama. “Pembuakan kue ini juga sebagai sarana memperkuat tali silaturrahmi antara warga,” tandasnya.

Dijelaskannya, warna kue apem yang putih kecokelakatan, banyak dimakanai sebagai tolak bala. “Sejak kecil sampai sekarang kita masih tetap menemukan kue ini. Di balik rasanya yang kenyal dan legit tersimpan makna yang besar, maka dari itu kami dari PKK Gedangan ingin terus mempertahankan tradisi kue yang satu ini,” paparnya.

Sementara itu, Ramlah (65), sesepuh desa setempat, yang telah puluhan tahun meracik bahan kue apem mengatakan, berdasarkan sejarahnya, kue apem sendiri dikenal sejak zaman Sunan Kalijaga. Hingga saat ini, kata Ramlah, terus dipertahankan oleh masyarakat Jawa. “Intinya saling berbagi, saling peduli, serta mempererat silaturrahmi antar warga,” ujarnya.

Sebagai pewaris tradisi leluhur,  kata Rahmlah, sudah seharusnya terus mempertahankan tradisi ini. “Apalagi kue ini memiliki nilai-nilai filosofis yang baik, sehingga kita harus terus melestarikan tradisi pembuatan kue apem,” tutupnya. (*)

News Feed