oleh

Lestarikan Batik Paoman, Program Kemitraan Pertamina MOR III Berdayakan Istri Nelayan

Wanita setengah baya itu tampak konsentrasi dengan canting di tangannya. Goresan demi goresan ia lukiskan diatas selembar kain. Saminah, nama perempuan berusia 53 tahun itu, mengaku sudah puluhan tahun melakukan pekerjaan itu. Membatik. Meneruskan kegiatan pendahulunya.

UTOYO PRIE ACHDI, Indramayu

 

DI SEBUAH ruangan berukuran sekitar 4×6 meter. Di sebuah rumah di Jalan Kopral Yahya, Kelurahan Paoman, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Saminah bersama beberapa wanita lainnya, asyik menekuni kerajinan batik.

Rata-rata mereka berusia antara 40-50 tahunan. Tidak ada yang muda. “Anak-anak sekarang mana ada yang mau membatik. Maunya kerja di pabrik atau di toko,” ujar Saminah.

Saminah yang bekerja di Batik Binar (Bintang Arut)  milik H Eddy Handoko, mengaku sangat menikmati pekerjaan tersebut. Menurutnya, sebagian besar pembatik wanita di tempatnya bekerja adalah para istri nelayan.

Mereka melakukan kegiatan ini untuk menghilangkan jenuh di rumah, ketika suami mereka tengah melaut. Bayangkan, kalau suami mereka ikut kapal besar, bisa berbulan-bulan baru pulang. Jadi mereka lebih senang memanfaatkan waktu luang untuk membatik.

“Hasilnya memang tidak terlalu besar. Tapi kami sudah mencintai pekerjaan ini, dan lumayan ada tambahan uang buat jajan anak-anak sehari-hari,” ujar Erni (47), pembatik lainnya.

Dalam sehari, Erni rata-rata bisa mendapatkan penghasilan antara 25.000 sampai 30.000 rupiah. Artinya, ia mampu menghasilkan 5 hingga 6 lembar kain batik dalam sehari. Karena untuk satu lembar kain batik yang ia selesaikan, mendapatkan upah Rp5000. Tapi berbeda untuk batik yang mahal atau berkelas, untuk satu lembar bisa mendapatkan upah Rp25.000 untuk setiap potong kain.

Erni mengaku, sudah mulai membatik sejak usia 20 tahun. Jangan heran, ia sudah lancar dan hafal ketika harus membatik motif tertentu. Tanpa harus menggambar pola terlebih dahulu. Di tengah pandemi Covid-19 ini, ia mengaku bersyukur masih mendapatkan kesempatan untuk ikut membatik. Karena di tempat lain banyak pekerja yang dirumahkan.

H Eddy Handoko selaku pemilik Batik Binar (Bintang Arut) di Kelurahan Paoman Kecamatan/Kabupaten Indramayu, mengaku mulai menggeluti UMKM ini sejak tahun 2008, meneruskan orang tuanya.

Eddy saat ini memperkerjakan 12-15 orang, dimana hanya satu orang pekerja pria, dan sisanya adalah para pembatik wanita. Ia merasa bangga karena para istri nelayan di sekitarnya masih memiliki semangat tinggi untuk membatik. Bisa dibayangkan ketika mereka tidak mau lagi melakukan pekerjaan itu.

“Memang anak-anak sekarang kebanyakan tidak mau diajak membatik. Semua yang kerja disini ibu-ibu rumah tangga. Harus ada solusi agar kedepan batik tetap eksis,” ujar Eddy.

Bagi Eddy, menggeluti usaha batik memang sudah mendarah daging. Ia juga sudah memiliki pelanggan khusus, baik pemilik toko maupun pedagang eceran lainnya. Untuk sementara penjualan Batik Binar masih di wilayah Kabupaten Indramayu. Meski demikian banyak juga konsumen dari luar daerah. Untuk yang dari luar kota, mereka tahu informasi Batik Paoman melalui online.

Di awal pandemi sekitar bulan April 2020 hingga bulan Juli 2020, Eddy mengakui kalau penjualan batik masih stabil atau tidak terpengaruh Covid-19. Ia justru heran, di saat pemerintah mulai menerapkan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) pada bulan Agustus 2020, penjualan malah menurun.

Meski ada penurunan penjualan, Eddy tetap semangat dan tidak pantang menyerah. Ia terus berupaya meningkatkan penjualan melalui media online, sambil berdoa supaya pandemi Covid-19 cepat berlalu.

Eddy tidak memungkiri, keberlangsungan usahanya juga berkat dukungan pihak Pertamina, salah satu BUMN yang ada di Indramayu. Melalui kredit ringan ia bisa mendapatkan pinjaman modal kerja, bahkan juga diberikan pelatihan usaha. Beberapa kali Eddy juga pernah diajak mengikuti pameran-pameran oleh Pertamina, untuk lebih mengenalkan Batik Paoman Indramayu.

Unit Manager Communication Relations & CSR Marketing Operation Region III (MOR III), Eko Kristiawan mengatakan, Batik Binar memang merupakan binaan Pertamina melalui Program Kemitraan. “Selain memberikan pinjaman modal usaha, kami juga melakukan pembinaan berupa pelatihan dan up-skilling. Selain itu ketika ada pameran kita ikutkan sebagai sarana promosi,” kata Eko.

Eko berharap, melalui program kemitraan yang terus terjalin, keberadaan Batik Paoman Indramayu akan semakin dikenal. Dengan demikian omzet akan meningkat dan keberlangsungan usaha akan tetap  terjamin. Di masa pandemi, Eko juga mendorong agar pemasaran online bisa lebih masif dilakukan. (*)

News Feed