oleh

Usaha Keripik Tike Berdayakan Kaum Wanita, Keuntungan Bisa Segurih Rasanya

Anda pernah merasakan gurihnya keripik tike atau emping tike? Ternyata produk cemilan yang satu ini hanya diproduksi di tempat tertentu saja. Di Kabupaten Indramayu, produksi keripik tike bisa ditemukan di Desa Jumbleng Kecamatan Losarang. Seperti apakah?

UTOYO PRIE ACHDI, Indramayu

SALAH SATU kelompok perajin keripik tike yang masih cukup eksis adalah UMKM kelompok perajin tike “Kuppas Bestari”. Memberdayakan sekitar 25 kaum wanita yang mayoritas ibu rumah tangga, kelompok ini sudah eksis sejak tahun 2017.

Pembina Kelompok, Otoy Koslia mengatakan, produksi keripik tike di tempatnya sudah ada sejak tahun 2006. Merupakan usaha turun temurun. Sekitar tahun 2017 barulah dibentuk kelompok usaha.

Otoy mengungkapkan, salah satu yang menjadi kendala adalah masalah bahan baku. Karena biji tike tidak bisa tumbuh di sembarang musim. Untuk musim hujan, biji tike sangat susah didapat. Selama ini, dia mengaku, mendapatkan bahan baku dari Cilacap, Jawa Tengah. Biasanya seminggu sekali ia mengambil sendiri bahan baku tersebut. Dengan kendaraan bak terbuka miliknya. “Sekali pengambilan bahan baku, bisa sampai satu setengah ton,” ujar Otoy.

Otoy mengakui, adanya pandemi Covid-19 cukup mempengaruhi usahanya. Apalagi ketika awal-awal pandemi pada bulan Maret 2020, dimana semua harus stay at home. Produksi keripik tike pun mengalami penurunan. Namun untuk saat ini, produksi sudah mulai normal. Pekerja mulai bisa bekerja. Tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan seperti wajib memakai masker.

Proses pembuatan keripik tike melalui beberapa tahapan. Seperti dijelaskan Ketua Kelompok Kuppas Bestari, Neni Rukmini. Tahap pertama biji tike dibersihkan, kemudian direndam. Setelah itu ditiriskan. Proses berikutnya biji tike disangrai hingga kering dan berwarna hitam. Kemudian biji-biji tike tersebut langsung digeprek hingga pipih, dan dijemur hingga kering. Proses terakhir adalah penggorengan. Keripik tike yang telah digoreng dan matang, ditiriskan lagi sebelum dikemas dan dipasarkan.

Pemasaran keripik tike khas Indramayu sudah semakin luas. Sebelumnya hanya di pasar-pasar tradisional dan toko-toko di Indramayu. Sekarang sudah meluas ke sejumlah kota lain di Jawa Barat maupun provinsi lain. Diantaranya Bogor, Bandung dan Semarang. Bahkan saat ini juga bisa ditemukan secara online melalui akun Instagram @kuppasbestari.

Keberhasilan usaha keripik tike Kuppas Bestari ini juga berkat dukungan pembinaan yang dilakukan Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field. Melalui pembinaan sumber daya manusia yang berkelanjutan, usaha ini pun masih tetap bertahan. Bahkan semakin berkembang.

Community Development Officer Pertamina EP Jatibarang Field, Isma Firliani mengatakan, produksi tike Kelompok Kuppas Bestari cukup berkembang. Namun pengaruh pandemi Covid-19 benar-benar sangat terasa dengan turunnya omzet pada triwulan pertama 2020.

Isma menjelaskan, produksi tike dimulai pada triwulan kedua (Juni 2019) mencapai 100 kg dengan omzet Rp7.500.000. Kemudian triwulan ketiga (September 2019) 150 kg dengan niai omset Rp11.250.000, dan puncaknya pada triwulan empat (Desember 2019) yaitu sebesar 8.685 kg dengan nilai omzet Rp65.137.500. Sementara triwulan pertama 2020 (Maret) produksi turun drastis sebagai imbas covid-19 yaitu hanya 400 kg dengan omzet senilai Rp30.000.000. “Mudah-mudahan produksi selanjutnya kembali normal sehingga omzet akan meningkat,” harap Isma. (*)

News Feed