oleh

Kekeringan, Petani Terancam Gagal Panen Air Waduk Menyusut, Sumur Pantek Kering

-Indramayu-189 views

INDRAMAYU-Ancaman gagal panen gara-gara kekeringan meluas. Tak hanya di wilayah pantura, petani sawah tadah hujan di daerah selatan Bumi Wiralodra juga mengalami nasib serupa.

Di sejumlah desa di Kecamatan Gantar, ratusan hektare tanaman padi hampir dipastikan gagal panen. Pasalnya, memasuki musim kemarau telah membuat sawah mereka kering.

Edi, petani asal Desa Situraja mengatakan, kemungkinan gagal panen itu memang sudah di depan mata. Di wilayahnya, hujan tak turun lagi sejak awal bulan lalu. Padahal, petani sangat bergantung terhadap air tadah hujan untuk mengairi sawah mereka.

Mengandalkan pasokan air dari waduk Cipancuh sudah tidak mungkin. Sebab sejak sebulan pula, volume air waduk seluas sekitar 700 hektare itu terus menyusut. Hanya berupa genangan di beberapa titik. “Paling seminggu lagi air waduk habis,” ucapnya kepada Radar Indramayu, Selasa (30/6).

Tak mau putus asa, sebagian petani ramai-ramai melakukan penyedotan air waduk yang tersisa menggunakan mesin pompa. Itupun butuh biaya tidak sedikit.

Mengandalkan sumur pantek juga sudah tidak mungkin. Sebab sumber air di bawah tanah telah habis. Terkecuali petani menggunakan sumur bor satelit. Yakni dengan membuat sumur bor di kedalaman 100 meter lebih.

“Biayanya mahal nyampe Rp15-17 juta bikinnya. Petani mana punya duit. Iya kalau sawahnya luas hasil panennya banyak. Kalau dapat tebasnya cuma Rp17 juta juga, ya wassalam,” ujar Edi.

Senada disampaikan Marno, petani di Desa Bantarwaru. Setidaknya seluas 50 hektare tanaman padi jelang panen di Blok Pangsor rawan mati kering. Bahkan, meski hujan turun dalam waktu dekat, areal persawahan disana sulit terselamatkan lagi. Karena kondisinya sudah terlanjur kering dan retak-retak. “Kalau minggu kemarin turun hujan mah bisa terselamatkan, tapi kan ternyata tidak,” tuturnya.

Marno menambahkan, selama ini para petani di desanya sangat bergantung pada air tadah hujan. Untuk melakukan pompanisasi dari Sungai Cipunegara menjadi hal mustahil karena lokasinya yang terlampau jauh dan naik turun wilayah perbukitan.

“Kekeringan di musim kemarau ini bukan kali pertama terjadi. Sudah sering. sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Semoga ada solusi dari pihak berwenang. Solusi lain seperti mengganti komoditas pertanian, tetap tak memungkinkan. Pindah tanam sayuran kan tetap butuh air. Solusinya memang hanya air,” tandasnya. (kho)

News Feed