oleh

Dedi Wahidi Kunjungi Lokasi Abrasi

INDRAMAYU-Anggota Fraksi PKB DPR RI asal daerah pemilihan Kabupaten Indramayu, Kabupaten dan Kota Cirebon, H Dedi Wahidi mengunjungi sejumlah desa yang terkena rob dan abrasi, Kamis (11/6). Kunjungan diawali di Desa Dadap Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu.

Didampingi Kuwu Desa Dadap, Asyriqin SSos dan Kuwu Desa Sendang Kecamatan Karangampel Aminudin, Dedi Wahidi meninjau langsung pantai yang terkena rob dan abrasi belum lama ini. “Saya datang langsung ke desa ini untuk mengetahui bagaimana kondisi desa-desa yang terkena abrasi. Ternyata kondisinya memang sangat parah dan harus segera dilakukan tindakan serius,” kata Dedi Wahidi.

Dikatakan politisi senior PKB ini, setelah melihat langsung kondisi di lapangan, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan pihak BBWS agar segera dilakukan tindakan serius, yaitu pembangunan breakwater dan jetty.

Kemudian juga akan disampaikan ke Kementerian PUPR sebagai pihak terkait, untuk segera mengatasi permasalahan abrasi di pantura Indramayu. “Besok para kuwu kita antar ke BBWS untuk mengajukan rancangan program, agar bisa segera dilakukan tindakan,” kata anggota Komisi V DPR RI ini.

Sementara itu, Kuwu Desa Dadap Kecamatan Juntinyuat, Asyriqin mengungkapkan, dalam kurun waktu tiga tahun, daratan di Desa Dadap telah berkurang hingga 50 meter akibat digerus abrasi. Itu terjadi sepanjang 2,5 kilometer dari keseluruhan panjang pantai 5 kilometer. “Kami hanya berharap kepada pemerintah untuk serius mengatasi masalah abrasi dengan membangun breakwater dan jetty,” kata Asyriqin.

Dari Desa Dadap, H Dedi Wahidi kemudian mengunjungi Desa Eretan Kulon Kecamatan Kandanghaur. Di tempat ini, ia disambut Kuwu Desa Eretan Kulon, Arif Santoso, dan sejumlah kuwu lainnya di Kecamatan Kandanghaur. Yakni Kuwu Wirapanjunan Sahidin, Kuwu Bulak Saudi, Kuwu Pranti Sukri, Kuwu Wirakanan Mulyono, dan Kuwu Karanganyar Toto Warnoto.

Mereka pada intinya mengeluhkan masalah yang sama, yaitu agar pemerintah serius membangun breakwater dan jetty yang tinggi.

“Kami sudah mengajukan proposal. Bahkan tahun 2018 pihak BBWS sudah melakukan survei lapangan. Tapi sampai saat ini belum juga ada tindakan nyata,” kata Kuwu Eretan Kulon, Arif Santoso. (oet)

News Feed