oleh

Warga Minta Segera Direlokasi, Delapan Rumah Terancam Ambles

INDRAMAYU-Sejumlah warga Blok Rengaspayung Desa Kertasemaya meminta segera direlokasi. Pasalnya, Tanggul Sungai Cimanuk yang ambles kian parah.

Bahkan, tanah longsor menjalar hingga merusak pondasi bangunan rumah warga. Sedikitnya ada delapan rumah warga yang terdampak tanggul ambles.

Padahal, tanggul ambles sempat diperbaiki pada akhir tahun 2019. Namun, tidak lama tanggul di Blok Rengaspayung itu kembali ambles kendati sudah dilakukan perbaikan susulan.  Menyikapi kondisi yang tidak junjung selesai, sejumlah warga kembali memasang spanduk kekecewaan atas penanganan tanggul sungai yang ambles sehingga membahayakan rumah mereka. Warga terdampak meminta agar pemerintah daerah dan instansi terakait untuk melakukan relokasi.

Salah seorang warga Blok Rengaspayung, Nur Ibrahim pada Radar Indramayu, mengatakan pemasangan spanduk ini merupakan bentuk protes warga terhadap berbagai pihak seperti BBWS, dan PUPR yang terkesan tutup mata terhadap nasib warga yang setiap hari dihantui rasa takut air Cimanuk limpas ke permukiman warga dan merobohkan rumah warga.

“Sekarang dampak retakan tanggul Cimanuk merusak SPAL dan pondasi sebagian bangunan rumah warga. Sebagian rumahnya retak-retak dan pondasinya sudah ambles,” ujarnya.

Lebih lanjut, dikatakan Ibrahim, warga terdampak tanggul ambles pernah dijanjikan Pemda Indramayu akan direlokasi. Namun, hingga saat ini belum ada kabar baik terkait tindak lanjut nasib beberapa rumah warga yang sangat bahaya apabila tetap ditempati. “Sebelum terjadi OTT oleh KPK, pernah dijanjikan akan direlokasi. Mungkin sekarang pemda sedang fokus penanganan Covid-19, tapi jangan lupakan nasib warga Rengaspayung,” tukasnya.

Sementara itu, Sekdes Kertasemaya Widy Santosa mengatakan, tindakan warga yang memasang spanduk yang meminta adanya perbaikan dan relokasi merupakan aspirasi yang wajar. Selama ini, lanjut Widy, warga berharap perbaikan tanggul bisa maksimal. Namun, setelah diperbaiki tanggul ambles semakin meresahkan warga karena mulai mengikis pondasi rumah warga.

“Kita desa tidak bisa melarang warga yang berinisiatif pasang spanduk. Pemdes sudah berusaha melaporkan ke BBWS sampai PUPR, tapi hanya ditanggapi biasa saja. Masih belum ada tindakan lagi, sedangkan ada 8 rumah warga yang terancam ambruk,” terangnya.

Diakuinya, warga sempat ditawari untuk relokasi sebelum ada kasus OTT. Bahkan dirinya sempat mencari tempat aman untuk relokasi warga. “Saya sempat mencari lokasi dimana akan direlokasi, karena jika rumah warga tetap dihuni ya bisa terdampak lagi. Namun, sampai sekarang belum ada kabar lagi,” pungkas Widy. (oni)

News Feed