oleh

Petani Garam Kian Merana, Harga Anjlok Imbas Wabah Covid-19

INDRAMAYU-Nasib petani garam rakyat di wilayah pesisir pantura Kabupaten Indramayu kian merana. Ikut tersengat wabah virus corona, harga garam terus anjlok. Imbasnya, hasil panen garam yang melimpah sepanjang musim kemarau tahun 2019 lalu, tak terserap optimal.

Tersimpan menumpuk di gudang. Harganya bahkan anjlok sampai ke titik terendah yakni Rp350 per kilogram (kg). Di saat yang sama, keprihatinan para petani kian menjadi-jadi menyusul kebijakan pemerintah yang justru menaikkan kuota impor garam di tahun 2020.

“2020 ini tahun kejatuhan petani garam rakyat pesisir pantura Indramayu. Garam menumpuk di gudang, tidak bisa keluar, gak ada yang mau beli,” kata Ketua Koperasi Produksi Garam Santing Sari Mandiri Kecamatan Losarang, Ali Mustadi kepada Radar, Selasa (28/4).

Dia menuturkan, sepanjang musim penghujan tahun ini, petani garam stop produksi. Di sisi lain, melimpahnya stok garam tahun 2019 lalu tak bisa diandalkan karena harganya terus anjlok.

Padahal biasanya, di saat musim penghujan seperti ini mestinya harga garam terkerek naik. Pernah tembus sampai Rp1.500/kg. Sekarang malah harganya hancur sampai Rp350/kg. “Jelas merugi. Garam waktu masuk gudang harganya Rp450 per kilogram. Sekarang keluar malah Rp350 per kilonya. Ya sudah biar menumpuk saja di gudang,” ujarnya.

Ada dua faktor yang membuat harga garam anjlok. Pertama, sebutnya, gara-gara terdampak virus corona. Dimana pabrik-pabrik besar yang biasanya membeli garam rakyat berhenti produksi sejak diberlakukannya bencana nasional Codiv-19.

Kedua, Ali Mustadi meyakini, anjloknya harga karena naiknya alokasi kuota impor garam yang direncanakan pemerintah pusat. Dari 2,75 juta ton di tahun 2019 menjadi 2,9 ton di tahun Tikus Logam ini. Kondisi ini membuat petani garam lokal resah di tengah jatuhnya harga garam karena stok yang melimpah sejak Agustus 2019 lalu.

Ali Mustadi mengaku tak habis pikir kenapa pemerintah justru menaikkan kuota impor di saat stok garam lokal melimpah. Mestinya saran dia, pemerintah melakukan verifikasi dan pendataan secara valid dilapangan. Pihaknya yakin, stok garam petani di Bumi Wiralodra masih menumpuk di gudang bahkan sampai bercecer di pinggir jalan raya.

Dia menegaskan, petani garam lokal  tidak anti impor. Asalkan peredarannya hanya diperuntukan untuk industri serta kebutuhannya menyesuaikan. Sebab bukan rahasia umum, kuota garam impor terkadang melebihi kebutuhan ril serta peredarannya bocor sampai kewilayah sentra garam.

“Saran kami, garam impor itu dipending dulu. Untuk cadangan saja, jika garam lokal habis, baru dikeluarkan. Bukan dalam kondisi seperti ini,” pintanya. (kho)

News Feed