oleh

Warga Jangan Termakan Hoax

INDRAMAYU – Prosesi pemakaman Pasien Dalam Pengawasan (PDP), NN (56), asal Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, menggemparkan masyarakat. Ya, pemakaman tersebut dilakukan pihak RSUD Indramayu dengan standar protap kesehatan, di TPU Blok Masjid, beberapa hari lalu.

Prosesi pemakaman menggunakan APD lengkap, membuat asumsi masyarakat, warga yang dimakamkan merupakan PDP yang terkena Covid-19. Menanggapi hal tersebut, Kuwu Sukadana, Ino Norita menyebut, korban bukan merupakan PDP karena Corona, melainkan karena penyakit yang dideritanya, yakni jantung dan paru-paru.

“Karena penyakit komplikasi, saat pemeriksaan, gejalanya mirip Corona. Sempat masuk ruang isolasi di RSUD Indramayu, kemudian meninggal dunia. Sesuai protap, ya proses pemakamannya menggunakan APD lengkap. Kita bersama Muspika ikut mengawal,” ucapnya pada Radar Indramayu, Jumat (17/4).

Pada Selasa (14/4), NN menderita sesak napas dan batuk (sedikit bercampur darah). Pukul 16.00 dibawa berobat dan dirawat pada klinik kesehatan di Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Namun, tak kunjung membaik. Pasien dipindahkan oleh keluarga ke RSUD Indramayu Rabu (15/4) pukul 02.00. Pasien lalu masuk ruang isolasi penanganan Covid-19 karena gejalanya mirip. Seperti sesak napas dan batuk (tidak ada demam). “Pukul 12.00 siangnya, pasien meninggal di ruang Isolasi,” terang Ino.

Pihak rumah sakit sudah mengambil air liur untuk dilakukan swab test di Bandung. Hasil baru diperoleh 10 hari kemudian, apakah positif atau negatif. “Namun, dilihat dari riwat sakitnya, NN meninggal karena penyakit yang diderita pasien,” ujarnya.

Karena gejala pasien mirip infeksi Corona, maka protokol pemakaman harus menggunakan standar penanganan wabah. Dari rumah sakit langsung menuju ke pemakaman oleh petugas dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang aman.

Prosesi pemakaman diawasi oleh Pemerintah Desa Sukadana, puskesmas, camat Tukdana, Polsek Tukdana dan Koramil Bangodua.

“Yang bersangkutan belum dinyatakan positif Covid-19. Namun sempat masuk ruang isolasi. Jadi, warga jangan termakan berita hoax. Warga harus tetap tenang, tidak panic, harus siaga dan waspada. Keluar rumah untuk keperluan penting saja, dan jangan lupa gunakan masker serta rajinlah jaga kebersihan diri dan lingkungan. Lewat medsos, saya sudah memberikan klarifikasi, masyarakat jangan asal percaya terhadap kabar-kabar yang tersebar di media sosial,” tambah Ino.

Sementara itu, Satori (49), warga Kecamatan Tukdana, mengaku sempat khawatir dan takut melintas setelah melihat adanya mobil jenazah RSUD Indramayu yang memakamkan jasad salah satu warga berstatus pasien dalam pemantauan (PDP). “Masih awan juga, banyak yang tidak paham. Tahunya hanya jika yang menguburkan menggunakan APD lengkap, ya kena Corona. Padahal kan belum tentu. Untung saja kuwunya langsung tanggap dan memberikan klarifikasi lewat media sosial. Warga bisa lebih tenang,” ujarnya. (oni)

News Feed