oleh

Petani Bakar Padi Jelang Panen

INDRAMAYU – Bukannya bersuka cita. Datangnya musim panen padi, sebagian petani di wilayah Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, justru bermuram durja. Betapa tidak, mereka harus merelakan tanaman padinya dibabat dan dibakar karena serangan hama wereng yang mengganas.

Cara membakar dan membabat padi ini, ditempuh agar wereng tak menyebar dan merusak tanaman milik petani lainnya. Tak hanya yang sudah mengering, tanaman padi siap panen namun terindikasi diserang wereng, juga ikut dimusnahkan.

“Ada yang dibakar, sebagiannya dibiarkan tapi tetap tidak bisa dipanen. Tanaman padinya sudah mengering diserang wereng,” ungkap Wasmin, petani di Desa Bongas, kemarin.

Tindakan petani itu merupakan langkah terakhir. Setelah mereka lelah berupaya membasmi hama wereng dengan melakukan penyemprotan menggunakan rupa-rupa obat. Tetapi hama kembali muncul dan terus menyebar. Bahkan, tak sedikit petani yang curiga wereng kian kebal pestisida.

“Yang bikin pusing itu, hama wereng nyerang pas padi tinggal beberapa hari mau dipanen. Waktu pas baru tanam juga kena, tapi serangannya tak terlalu parah. Semprotan pestisida masih ampuh membunuh wereng, tapi sekarang sudah kebal rupanya,” terang dia.

Petani lainnya, Castra menduga, masih tingginya curah hujan diselingi panas terik matahari berkepanjangan, dituding jadi biang mewabahnya serangan hama tersebut. Jika terus bertambah, bakal mengancam produktivitas hasil panen.

“Sebab, biasanya bisa dapat empat ton, sekarang turun jadi tiga ton. Saat dipanen, gabahnya malah campur wereng,” keluhnya.

Sebelumnya, serangan hama wereng juga menerjang area pertanian padi jelang panen di wilayah Kecamatan Gantar, Cikedung dan Sukra. Selain wereng, petani di tiga kecamatan itu juga dipusingkan dengan adanya serangan penyakit blas atau pada tanaman padi. Kasus ini terjadi di area persawahan yang tanaman padinya menjelang dipanen di Kecamatan Cikedung.

Beberapa hektare tanaman padi mengalami kerusakan parah akibat hama ini. Penyakit blas sendiri disebabkan oleh adanya jamur Pyricularia Grisea. Jamur jenis ini memang muncul apabila tiba musim penghujan.

Kondisi serupa juga dialami para petani di Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra. Sedikitnya 200 hektare tanaman padi menjelang panen, telah terjangkiti penyakit blast. Ancaman gagal panen membayangi.

Serangan hama blas dan wereng ini terjadi sejak musim penghujan tiba. Dari satu hektare tanaman padi, lebih dari 40 persen yang mengalami kerusakan.

“Jelas, serangan hama akan mengancam hasil produksi pertanian di Indramayu yang dikenal sebagai lumbung padi nasional. Ini berbahaya jika dibiarkan, pemerintah harus turun tangan,” pinta Tata, tokoh petani asal Kecamatan Cikedung.

Menurut Tata, selama ini petani sering kewalahan dalam mengatasi serangan hama. Berbagai upaya sudah dilakukan. Mulai dengan cara manual, sampai menggunakan obat-obatan yang harganya mahal. Akan tetapi hasilnya tetap tidak maksimal.

Karena itu, pemerintah melalui dinas instansi terkait harus hadir langsung membantu petani dalam mengatasi persoalan. Dia menyarankan, pemerintah menerjunkan para penyuluh lapangan yang mempunyai pengetahuan dalam memberantas hama dan organisme pengganggu tanaman (OPT). Disamping memberikan bantuan obat-obatan yang dibutuhkan.

“Saya setuju penanganan wabah virus Corona diutamakan. Tetapi terjadinya ledakan populasi hama tanaman ini harus diwaspadai dan segera ditangani. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak juga kalau ketahanan pangan terancam. Sekarang saja harga kebutuhan pangan sudah mulai naik. Sekali lagi, pemerintah harus turun tangan,” tandasnya. (kho)

News Feed