oleh

Lobener Lor Pertahankan Tradisi Mapag Tamba

INDRAMAYU РSebagai masyarakat yang tinggal di wilayah Pantai Utara (Pantura) khususnya bagi petani sangat kaya akan khazanah tradisi. Salah satunya  dengan satu tradisi mapag tamba yang masih terus dipertahankan oleh masyarakat, atau pemerintah desa setempat.

Salah satunya Pemerintah Desa Lobener Lor, Kecamatan Jatibarang yang masih terus mempertahankan tradisi mapag tamba tersebut yang dipercaya sebagai upacara pengusir hama dan penyakit tanaman padi yang berdampak pada meningkatnya hasil produktifitas tanaman padi.

Kuwu Lobener Lor, Mahpudin mengatakan mapag tamba adalah tradisi yang secara turun temurun dilaksanakan leluhur sampai saat ini masih terus dilestarikan. Khususnya oleh pemerintah desa yang mayoritas masyarakat dan memiliki wilayah pertanian yang luas. Yang merupakan upacara untuk mengusir hama dan penyakit tanaman padi. Sebagai bentuk harapan sawah pendudum dijauhkan dari hama dan penyakit tanaman padi.

“Air diambil dari sumber air inti saluran, yang wadahnya terbuat dari bambu, kemudian dibawa perangkat desa berkeliling wilayah persawahan dimulai dari kantor desa, kemudian air itu di tumbahkan di setiap titik batas sawah,” ujar Mahpudin, Jumat (27/3).

Dalam pelaksanaan upacara tradisi mapag tamba ada persyarakatan yang harus terpenuhi agar tujuan dari mapag tambah berhasil. Seperti selama perjalanan pembawa air tidak boleh menengok ke arah belakang dan tidak boleh berbicara. Saat ada petani yang sedang bekerja di sawah, mereka akan berhenti sejenak saat dilewati rombongan, setelah itu mereka lanjutkan kembali aktivitasnya.

“Ya alasannya pada saat rombongan mapag tamba melintasi sawah berarti sedang mengobati sawah petani, setelah itu meraka bisa melanjutkan kembali aktivitasnya bertani,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat H Radoko mengatakan mapag tamba adalah tradisi yang sudah ada dan dilaksanakan secara turun temurun. Memiliki nilai filosofis tersendiri bagi kalangan petani, karena selama ini petani profesi yang ada sejak dulu. Hal ini merupakan bentuk upacara adat yang mengharapkan agar sawah mereka tidak terserang penyakit.

“Jadi warisan leluhur, bagi generasi muda untuk melestarikan tradisi, karena di Indramayu tradisi yang masih bertahan sampai sekarang selain mapag tamba, ada mapag sri, sedekah bumi, dan unjungan. Keempat tradisi ini punya historikal tersendiri, yang harus terjaga dan dilestarikan oleh generasi muda,” ujarnya. (oni)

 

 

 

News Feed