oleh

Warga Pesisir Pantai Tiris Indramayu Gelar Tradisi Baritan untuk Cegah Virus Corona

INDRAMAYU – Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah persebaran Covid-19, yang telah dinyatakan pandemi oleh World Health Organization (WHO). Dari upaya medis, hingga sejumlah tradisi dan ritual yang berbau mistis.

Seperti yang dilakukan warga Desa Pabean Ilir Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu, belum lama ini. Mereka menggelar tradisi Baritan, ritual tolak bala yang dipercaya masyarakat sekitar bisa menjadi penangkal dari segala marabahaya. Termasuk persebaran Covid-19 yang kini makin merebak di Tanah Air.

Menurut juru kunci Pantai Tiris, Warpan (59), tradisi Baritan dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon menurut penanggalan Jawa. Ritual dilakukan setelah adanya tanda-tanda bahaya, seperti persebaran virus mematikan Covid-19 belakangan ini.

“Intinya, kami berkumpul disini untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar dijauhkan dari segala keburukan. Ini merupakan tradisi leluhur yang dilaksanakan secara turun-temurun,” jelasnya.

Selain memanjatkan doa yang dipandu oleh pemuka agama setempat, masyarakat dengan sukarela membawa nasi tumpeng berisi lauk-pauk beserta hasil bumi lainnya. Sebagian tumpeng dimakan bersama setelah melaksanakan doa bersama. Sebagian lainnya diarak di sekitar lokasi ritual, sambil mengumandangkan kalimat tauhid.

“Ngarak tumpeng, surak (menebar uang) atau pun makan bersama merupakan simbol pembebasan dari segala bencana. Itu merupakan warisan dakwah para waliullah, salah satunya dilakukan oleh Syekh Syarif Durakhman,” tandasnya.

Namun, ia pun meminta masyarakat untuk tidak salah mengartikan pelaksanaan tradisi Baritan, yang bisa mengarah pada kemusyrikan. Selain sebagai upaya merawat dan menjaga kelestarian tradisi leluhur, ritual Baritan digelar sebagai ikhtiar manusia agar terhindar dari segala marabahaya.

“Semuanya kembali kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia hanya berikhtiar melalui doa-doa yang dipanjatkan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, tradisi baritan merupakan ritual masyarakat di pesisir pantai Utara (Pantura) pulau Jawa yang bertujuan sebagai penolak wabah penyakit menular di suatu wilayah. Ritual biasanya dilaksanakan di perempatan jalan, dengan menggelar doa dan dzikir bersama yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Tujuannya satu, yakni memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dijauhkan dari musibah wabah penyakit. (jml/mgg/cup)

News Feed