oleh

Keran Ekspor Ditutup, Harga Udang Laut Turun, Nelayan Kena Imbas Covid-19

INDRAMAYU-Nelayan pesisir pantura Bumi Wiralodra ikut tersengat wabah virus corona. Ini menyusul turunnya harga udang jerbung hasil tangkapan melaut. Harga udang kualitas ekspor itu menurun menyusul ditutupnya keran pengiriman ke luar negeri akibat sentimen merebaknya wabah virus corona global.

“Tidak bisa diekspor, stok melimpah, harganya otomatis turun,” kata Ketua TPI Sukahaji, Kecamatan Patrol, H Thamrin kepada Radar Indramayu, Kamis (19/3).

Saat ini, harga udang jerbong di tempat pelelangan di kisaran Rp100-115 ribu per kilogram bergantung ukuran. Turun Rp10-20 ribu dari harga normal. Biasanya, udang hasil tangkapan nelayan Desa Sukahaji dan Desa Bugel itu ditampung oleh agen untuk kemudian diekspor ke pasar luar negeri seperti China, Amerika dan beberapa negara di Eropa.

Dari informasi yang diterimanya, China dan Amerika menjadi negara penyerap berbagai komoditas seafood terbesar dari Indonesia yang bersaing dengan India, Vietnam dan Australia.

Di saat kedua negara itu untuk sementara waktu menghentikan perdagangan hewan hidup atas kejadian wabah virus corona, praktis keran ekspor termasuk udang laut ditutup atau ditunda pengirimannya untuk mengantisipasi persebaran virus. Sehingga permintaan akan seafood menurun.

Untungnya, permintaan udang hasil tangkapan nelayan masih dapat terserap pasar lokal. Seiring menjamurnya kuliner seafood dari dalam dan luar Kabupaten Indramayu. Walaupun permintaannya masih terbatas karena harganya memang cukup tinggi. “Mudah-mudahan harganya tidak turun terlalu drastis. Setelah menganggur lama karena musim baratan, sekarang nelayan kami lagi menikmati harga yang masih cukup baik,” katanya.

Thamrin menyebut, setiap perahu nelayan yang berangkat melaut dari pagi dan pulang malam hari bisa mendapatkan hasil tangkapan 25-30 kg udang jerbong. Sehingga jika harganya dirata-ratakan Rp100 ribu/kg, maka didapat pendapatan kotor sebesar Rp2,5 juta-3 juta setiap melaut. (kho)

News Feed