oleh

Pendaftar Membeludak, MI Al Ikhlas Eretan Butuh RKB Batasi Jumlah Siswa

INDRAMAYU-Sekolah nelayan, kualitas unggulan. Predikat itu layak disandang Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ikhlas Eretan Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur.

Betapa tidak, animo masyarakat untuk menitipkan putra-putrinya di lembaga pendidikan bernafaskan Islam yang menerapkan model sekolah sehari penuh atau Full Day School (FDS) itu begitu luar biasa.

Buktinya, Panitia Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) sampai kewalahan untuk menampung pendaftar calon siswa baru kelas 1 tahun ajaran 2020/2021.

Pasalnya, sekolah swasta di bawah naungan Yayasan Al Ikhlas itu membatasi hanya menerima 60 calon siswa baru menyesuaikan dengan jumlah ruang kelas yang tersedia.

“Daya tampungnya terbatas, hanya tersedia dua rombongan belajar. Sehingga penerimaan untuk calon siswa baru kelas 1 terpaksa dibatasi,” kata Kepala MI Al Ikhlas Eretan, Drs H Masnun Sarnawi kepada Radar Indramayu, Selasa (10/3).

Pendaftar, ungkapnya, tidak hanya dari Desa Eretan Wetan dan sekitarnya. Tapi pula berasal dari luar wilayah Kecamatan Kandanghaur. Mereka sudah mendaftarkan anak-anaknya sejak hari pertama PPDB dibuka. Hanya dalam satu hari, formulir yang terserap sudah hampir habis dari jumlah yang disediakan.

Animo masyarakat itu belum bisa ditampung oleh MI Al Iklhas Eretan lantaran terbatasnya ruang kelas yang tersedia. Dia meminta agar para orang tua yang anaknya tidak diterima di MI Al Ikhlas Eretan, untuk memahami kondisi tersebut.

Namun, menurutnya, kendala keterbatasan itu dapat diatasi dengan adanya bantuan Ruang Kelas Baru (RKB). “Kami yakin bila pendaftaran siswa baru ini tidak kami batasi, mungkin jumlahnya melebihi 100 calon siswa baru. Itu artinya, kami membutuhkan bantuan dua RKB lagi. Mudah-mudahan bisa menjadi perhatian dari para pihak terkait. Untuk pendidikan berkualitas bagi khususnya bagi anak-anak nelayan,” harapnya.

Masnun Sarnawi menerangkan, minat masyarakat tidak lepas dari terobosan yang dilakukan oleh MI Al Ikhlas Eretan sejak tahun ajaran 2012/2013 lalu. Yaitu memadukan antara sekolah pagi (MI) dengan sekolah sore atau Madrasah Takmiliyah Awaliyah (DTA).

Penerapan PMIT, lanjutnya, dilatarbelakangi oleh keinginan para orang tua dan wali murid yang berharap agar anak-anak mereka dibekali pengetahuan agama yang lebih mendalam.

Pasalnya, meskipun di MI sudah ada pembelajaran ilmu agama, namun dirasa belum optimal karena waktu KBM setiap hari sangat terbatas yakni hanya berkisar 5 jam. Sementara bagi siswa yang hendak belajar ilmu agama, harus mengikuti pendidikan di lain tempat yakni DTA yang diadakan pada sore hari.

Sehingga dengan diterapkannya pola pembelajaran yang terintegrasikan ini, diharapkan siswa banyak menyerap pelajaran agama secara maksimal sebagai bekal awal pembentukan karakternya. “Penerapan pola sekolah pagi dan sore ini, maka sesungguhnya kami telah menerapkan model FDS. Lulusannya mendapatkan dua ijazah yaitu MI dan DTA,” katanya.

Tak cuma itu, MI Al Ikhlas juga membuka program unggulan yakni kelas tahfiz, kelas tamyiz dan ngaji kitab kuning. Sehingga tak mengherankan, mayoritas anak didik di MI Al Ikhlas meski baru duduk di bangku kelas 2 dan 3 sudah mampu membaca serta menerjemahkan Alquran dengan lancar.

Sedangkan kegiatan ekstrakurikulernya yaitu marching band, karate, kesenian marawis rebana, pramuka dan polisi sekolah. MI Al Ikhlas Eretan juga menyedian mobil antar jemput bagi peserta didik yang tempat tinggalnya diluar Desa Eretan Wetan. (kho)

News Feed