oleh

Ribuan Hektare Tanaman Padi Terancam Gagal Tanam

PETANI di wilayah pantura Kecamatan Kandanghaur lagi galau. Pasalnya, tanaman padi yang baru saja ditanam terendam banjir. Jika genangan lebih dari tiga hari, dipastikan tanaman padi yang baru berumur 1-30 hari setelah tanam (hst) akan mengalami gagal tanam atau harus tanam ulang.

“Sekarang baru dua hari terendam. Masalahnya, air di sawah belum ada tanda-tanda surut. Malah ketinggiannya naik diguyur hujan terus. Jika harus tanam ulang, dibutuhkan biaya cukup besar untuk biaya pembelian benih, semai dan pemupukan pertama,” tutur Saman, petani di Desa Wirakanan kepada Radar, Rabu (26/2).

Masih tingginya curah hujan dan kiriman air dari hulu, dia pesimis genangan air di sawahnya bakal menyusut. “Saat ini saja, meski hujan turun rintik-rintik membuat pucuk tanaman padi sampai tak terlihat,” katanya.

Menurut Saman, area sawah wilayahnya selama ini memang menjadi langganan banjir. Setiap tahun ketika musim hujan, air tak bisa mengalir dengan lancar. Bahkan, tak jarang petani menanam dua-tiga kali, lantaran padi yang terendam  membusuk.

Senada dikatakan Ketua KTNA Kandanghaur, Waryono Batak. Jika genangan air cepat surut maka tanaman masih bisa dipertahankan. Namun, bila lebih dari tiga hari petani harus menanam ulang.

Dia menyebutkan, dari data yang diterimanya total tanaman padi yang terendam banjir hampir separuh dari luas tanam di wilayah Kecamatan Kandanghaur. Yakni seluas 2200 hektare dari 4840 hektare yang tersebar di 12 desa. Terparah yakni di Desa Soge dan Bulak masing-masing dengan luasan 453 dan 299 hektare.

“Bayangkan hampir separuhnya. Ironis. Sebenarnya terjadi banjir seperti ini sudah terjadi setiap tahun saat musim hujan, apalagi kalau intensitasnya tinggi, sawah pasti terendam,” kata dia.

Waryono Batak mengungkapkan, penyebab banjir akibat terjadinya penyempitan dan pendangkalan saluran air. Ditambah intensitas hujan tinggi, air dari saluran maupun sungai mengalami limpas hingga menggenangi areal persawahan. (kho)

News Feed