oleh

Indramayu Butuh Sosok “Dewa”

INDRAMAYU-Pemilihan bupati dan wakil Bupati Indramayu yang tinggal tujuh bulan, partai politik di Kabupaten Indramayu masih belum menentukan secara pasti siapa kandidat yang akan diusung pada pilbup 23 September 2020 nanti. Dengan alasan masih berproses atau masih menunggu hasil survei, mereka masih juga belum menentukan pilihan.

Partai sekelas Golkar saja masih dalam tahapan awal penjaringan. Begitu juga PDI Perjuangan, PKB, Gerindra, hingga Demokrat, ikut melakukan penjaringan bakal calon bupati/wakil bupati. Mereka sepertinya masih memilih-milih tokoh yang tepat. Tokoh yang memiliki elektabilitas dan popularitas tinggi. Caranya adalah dengan melakukan survei.

Sementara pengamat politik, Adlan Daie menilai, untuk pilbup Indramayu 2020 memang belum ada bakal calon bupati yang menonjol. Menurutnya, kebanyakan tokoh yang belakangan muncul masih berusia muda dan belum berpengalaman. Tak heran Adlan justru menilai kalau Kabupaten Indramayu untuk saat ini membutuhkan sosok Dewa (Dedi Wahidi).

Adlan bahkan sempat membuat tulisan yang berjudul “H Dedi Wahidi dan Panggilan Ibu Pertiwi”. Dalam tulisannya, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat ini menilai kalau sekarang adalah saat yang tepat bagi Dewa untuk pulang kampung dan memimpin Indramayu sebagai “Ibu Pertiwi” yang sedang bersusah hati . Figur Dewa dinilai tepat untuk muncul di saat kondisi Indramayu seperti sekarang ini.

Adlan mengungkapkan, dukungan atau dorongan terhadap Dewa untuk menjadi bupati muncul dari sejumlah kalangan yang memberikan bisikan kepadanya. Mulai dari para kader NU, kader PKB, para pensiunan dan birokrat aktif. “Mereka umumnya memiliki relasi humanistik dengan kesan membatin dan tali ikatan silaturahim yang terpelihara sangat baik dengan H Dedi Wahidi. Baik sebagai tokoh NU, kader PKB, dan mantan wakil bupati Indramayu maupun dalam konteks hubungan insaniyah dalam segala drata level sosialnya,” ujarnya.

Adlan menambahkan, problem Indramayu hari ini membutuhkan kehadiran H Dedi Wahidi. “Indeks Pembangunan Manusia (IPM )nya  mangkrak, yakni masyarakatnya rentan sakit, SDM nya rendah, daya belinya lemah, arus investasi mampet, layanan publik di bawah standar layanan TKI dan sumber daya birokrat yang bagus tapi salah asuhan tidak cukup hanya menghadirkan seorang bupati bermental mesin birokratis, miskin visi, fakir narasi dan minus jejak prestasi,” beber Adlan.

Problem Indramayu tersebut dan pasca OTT KPK, lanjut Adlan, relatif akan mampu dikanalisasi solusinya oleh kehadiran H Dedi Wahidi dengan rekam jejak politiknya yang bersih, ketokohannya bermagnit kuat, kepemimpinannya berpengaruh, basis sosialnya  legitimated di akar rumput dan pengalaman politiknya mapan sebagai mantan wakil bupati Indramayu dan kini di periode ketiga di DPR RI mewakili Indramayu dan Cirebon.

Sementara itu, H Dedi Wahidi saat ditemui membenarkan kalau dirinya memang banyak dilamar oleh sejumlah partai. Mereka meminta dirinya untuk maju sebagai calon bupati Indramayu. “Banyak tokoh masyarakat maupun tokoh politik yang meminta saya maju sebagai calon bupati. Tapi saya sampai saat ini belum memutuskan. Karena saya juga harus minta restu ke istri dan keluarga,” ungkapnya. (oet)

News Feed