oleh

Berdayakan Pandai Besi lewat BUMDes

INDRAMAYU-Berbagai upaya ditempuh pemerintah desa guna mengangkat potensi desa agar terus berdaya dan bisa berdampak pada sektor perekonomian masyarakatnya.

Hal itu seperti dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Bangkaloa Ilir, Kecamatan Widasari yang terus berusaha menghidupkan industru rumahan pandai besi lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dimilikinya.

Kuwu Bangkaloa Ilir, H Mislam menyebutkan, pandai besi yang masih eksis di tengah-tengah masyarakatnya merupakan potensi desa yang harus dikembangkan. Pasalnya, keberadaan pandai besi di Blok Pande sangat potensial membuka lapangan pekerjaan bagi warga lainnya. Untuk itu, lanjut Mislam, pemdes akan membantu permodalan pandai besi yang bersumber dari BUMDes.

“Pandai besi jadi salah satu penggerak roda perekonomian masyarakat Bangkaloa Ilir di Blok Pande sendiri dan blok lainnya. Potensi inilah yang membuat pemdes ingin mengembangkan usaha pandai besi lebih pesat lagi dengan bantuan permodalan dari BUMDes,” ucap Mislam saat ditemui di ruang kerjannya, Selasa (4/2).

Dijelaskannya, pandai besi di Desa Bangkaloa Ilir sudah puluhan tahun menjadi home industry turun temurun masyarakat di Blok Pande, meskipun saat ini jumlahnya terus mengalami penurunan. “Sebelumnya hampir warga di Blok Pande berprofesi sebagai pandai besi, tetapi saat ini tinggal 10 kelompok yang masih eksis memproduksi perlengakapan dapur dan lainnya yang terbuat dari besi. Masing-masing kelompok memiliki 10 sampai 20 orang pekerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dikatakan Mislam, alat yang digunakan cukup sederhana dan bahan yang digunakan untuk pembuatan secara tradisional, seperti besi, baja, per mobil, tempahan, kayu, palu, blower, arang, dan perlengkapan penjepit. “Tapi ada beberapa diantaranya yang sudah menggunakan mesin memproduksi sehingga tidak terlalu menghabiskan energi,” kata Mislam.

Rencananya, lanjut mantan Anggota DPRD Kabupaten Indramayu ini, pemdes lewat BUMDes akan memberikan bantuan permodalan setiap kelompok pandai besi untuk pembelian bahan baku.

“Untuk pemasaran sudah baik, bahkan bisa sampai keluar daerah. Di Indramayu perajin pandai besi yang masih eksis ya hanya disini saja. Hasil produksinya seperti pisau atau parang sudah beredar di luar daerah Indramayu,” terangnya.

Setiap harinya, sambung Mislam, setiap kelompok pandai besi bisa menghasilkan 20 sampai 30 buah sabit, pisau, dan parang,  dengan estimasi harga satuan mulai Rp20 ribu sampai Rp30 ribu. “Hal ini membuat pemerintah desa tertarik ingin terus mengembangkan home industry pandai besi, dan mempertahankan usaha turun temurun di blok ini,” kata Mislam sambil mengatakan dana BUMDes selain untuk pandai besi juga mendorong sektor pertanian. (oni)

News Feed