oleh

Azis Subyakar; Anggota Punk yang Ingin Mandiri Ajak Rekannya Wirausaha

Sebagian masyarakat beranggapan bahwa komunitas anak punk tidak memiliki masa depan yang lebih baik. Pasalnya, anak punk menunjukan gaya hidup hura-hura dan terkesan sebagai anak pemalas. Benarkah anggapan tersebut?

KOMARUDIN KURDI, Anjatan

BAJU yang lusuh dan kotor dengan potongan rambutnya tak rapih. Tubuh dan bahkan wajahnya bertato, kuping atau hidungnya ditindik dan dipasangi anting seperti menjadi identitas komunitas punk. Bahkan, komunitas ini sering berkelompok terlihat di setiap lampu merah. Di lokasi itu, mereka mengamen dan tidak malu-malu meminta uang atau rokok kepada pengguna jalan.

Dari gaya penampilan dan sikap mereka memang orang akan menilai negatif. Namun, pemandangan berbeda saat wartawan koran ini menemui anggota komunitas punk di Desa Wanguk Kecamatan Anjatan.

Adalah Azis Subakyar (27), anggota punk yang ingin mengubah imej komunitasnya seperti persepsi masyarakat kebanyakan. Kendati penampilan tetap ala anak punk, Azis yang sudah bergabung selama lima tahun dengan punk tidak ingin jika komunitasnya dicap sebagai pemalas dan berbuat onar.

Azis yang kini sudah menikah bisa membagi waktu, yakni bergaul dengan teman-teman di komunitasnya dengan waktu untuk keluarganya.

Untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, ia memanfaatkan waktu di sore hari dengan berjualan jagung bakar di pinggir Jalan Raya Wanguk. Azis juga mengajak teman-temanya sesama anak punk membantu usahanya. Menurut Azis, dirinya mengajak teman-temanya, selain untuk memberikan motivasi juga mengajarkan mereka usaha dagang dan mandiri.

“Baru setengah bulan saya membuka usaha dagangan jagung bakar ini. Saya jualan jagung untuk menyambut tahun baru. Karena biasanya di momen pergantian tahun, banyak yang membeli jagung. Sebelumnya saya berjualan tahu goreng krispy,” ujar Azis, kemarin (2/1).

Azis mengatakan, dirinya akan melanjutkan usaha berjualan jagung bakar. Menurutnya, dari hasil jualannya itu bisa untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

“Menjadi anak punk saya tetap masih eksis. Kalau ada konser saya juga akan datang. Ya kita bagi waktu, saatnya bergaul dengan teman-teman, saatnya juga usaha cari nafkah. Jualan jagung bakar ini, saya dibantu sama teman-teman anak punk. Sekarang kedatangan teman punk dari Surabaya. Mereka juga sama ingin belajar wiraswasta berdagang seperti saya,” kata Azis.

Sementara itu, Adit Kendo, teman Azis menambahan, anak punk juga sama seperti yang lain, ingin bekerja atau usaha. Menurut Adit, dirinya maupun teman-temanya menjadi anak punk ingin menambah banyak teman. Terkait dengan penampilannya, seperti menenakan baju yang terkesan kumal dan model rambut seperti itu, menurutnya seni dan sebagai bentuk kepuasan diri. (*)

News Feed