oleh

Wamendes Pimpin Ziarah di Hari Bakti Transmigrasi

INDRAMAYU-Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) RI kembali melaksanakan ziarah nasional ke Makam Pionir Pembangunan Transmigrasi di Desa Sukra Kecamatan Sukra, Senin (10/12).

Digelar rutin setiap tahun, ziarah dan doa bersama di 67 makam calon transmigran asal Kabupaten Boyolali Jawa Tengah yang meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal di Jembatan Sewo itu merupakan salah satu rangkaian kegiatan memperingati Hari Bakti Transmigrasi ke-69.

Prosesi ziarah di Monumen Makam Pionir Pembangunan Transmigrasi berlangsung khidmat. Wakil Menteri Desa PDTT Budi Ari Setiadi bertindak menjadi inspektur upacara.

Turut serta Dirjen PKTrans M Nurdin, Dirjen PKP2Trans Hari Pramudiono, Asisten Pemerintahan Kabupaten Indramayu Jajang Sudrajat, jajaran Perhimpunan Anak Transmigrasi Republik Indonesia (PATRI), Muspika Sukra, para kuwu, anggota TNI/Polri serta peserta ziarah lainnya baik dari Kemendes PDTT maupun dari Pemerintah Kabupaten Indramayu.

Setelahnya acara dilanjut dengan tabur bunga serta penyerahan santunan kepada tiga korban selamat yakni Djaelani, Suyanto dan Sangidu. Pasca musibah menuju lokasi Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Rumbiya, Sumatera Selatan pada 11 Maret 1974 itu, ketiganya diangkat sebagai PNS di Departemen Transmigrasi dan PPH, Kantor Wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu Wamendes, Budi Ari Setiadi mengatakan, ziarah ini merupakan bentuk penghormatan dan doa kepada para pionir transmigran yang gugur saat itu.

Ziarah ini dilakukan untuk kembali mengingat peristiwa penting dalam sejarah pembangunan transmigrasi di Indonesia. Secara historis, permulaan penyelenggaraan transmigrasi dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 1950.

Pemerintah Indonesia secara resmi melanjutkan program kolonisasi yang telah dirintis pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1905 dengan nama yang lebih nasionalis yaitu transmigrasi. “Mereka yang meninggal di tempat ini merupakan kelompok warga pertama yang akan diberangkatkan ke lokasi transmigrasi petama kali di Indonesia. Mereka adalah pionir pembangunan transmigrasi,” katanya.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan Kabupaten Indramayu Jajang Sudrajat mengatakan, program transmigrasi tidak hanya untuk memindahkan penduduk ke daerah tujuan tetapi juga sebagai perekat NKRI. “Saya berharap kepada para transmigran untuk dapat mengembangkan potensinya dan sukses di tempat transmigrasi nantinya, sehingga tidak perlu lagi untuk kembali ke daerah asal,” terangnya. (kho)

News Feed