oleh

Kabupaten Indramayu; Mutiara dari Kawasan Pantura, Menuju Kawasan Industri, Pertahankan Predikat Lumbung Padi

INDRAMAYU-Indramayu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang letaknya di Pesisir Pantai Utara Jawa Barat. Sebagai penghasil buah mangga, Indramayu sering disebut sebagai Kota Mangga. Luas wilayah Indramayu mencapai 209.942 hektare. Panjang garis pantai mencapai 147 kilometer. Kemudian areal persawahan seluas 116.675 hektare, areal tambak 16.239 hektare, areal perkebunan 6.058 hektare serta areal hutan seluas 34.300 hektare.

Laju pertumbuhan ekonominya sebesar 1,26 persen, dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp58,24 trilliun. Sedangkan volume APBD Kabupaten Indramayu pada tahun 2018 sebesar Rp4 trilliun, dengan rincian Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai 11,06 %, dana perimbangan 55,85 %, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar 33,09 % dari volume APBD.

Letak Indramayu sangat strategis. Dilintasi jalur pantura penghubung Jakarta-Jateng (Trans Jawa), Jalan Tol Cipali, jalur kereta api dan dekat dengan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka serta Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang.

KETAHANAN PANGAN: H Taufik Hidayat saat menghadiri Peringatan Hari Pangan Sedunia di Kabupaten Indramayu, beberapa waktu lalu.
FOTO: UTOYO PRIE ACHDI DAN ISTIMEWA

Dilihat dari potensi sumber daya alam yang dimiliki, Kabupaten Indramayu adalah diibaratkan sebagai mutiara yang terpendam di Jawa Barat. Tanahnya subur. Perut buminya mengandung minyak dan gas. Pantainya menghasilkan ikan dan garam.

Selain itu juga teraliri dua waduk besar yakni Waduk Jatigede yang mengalir ke Indramayu Timur, dan Waduk Jatiluhur yang mengalir ke Indramayu Barat yang menjadi sumber irigasi teknis untuk pertanian dan perkebunan.

Di bawah kepemimpinan Plt Bupati H Taufik Hidayat SH MSi, dengan visi Indramayu Remaja (Religius, Maju, Mandiri dan Sejahtera) pembangunan di Kabupaten Indramayu terus dilakukan secara merata di segala bidang.

Investasi pun terus diupayakan. Salah satunya dengan merevisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dengan adanya revisi perda tersebut, Indramayu kini terbuka untuk menjadi kawasan industri, meski tetap mempertahankan perannya sebagai lumbung padi nasional.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, Kabupaten Indramayu masuk dalam Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI). Untuk itu, Kabupaten Indramayu pun telah menyiapkan Kawasan Peruntukkan Industri (KPI).  “Kami sediakan lahan seluas 20 ribu hektare untuk kawasan industri, yang tersebar di sepuluh kecamatan untuk KPI,” ungkap Taufik.

Adapun sepuluh kecamatan itu, yakni Kecamatan Sukra, Patrol, Kandanghaur, Losarang, Balongan, Juntinyuat, Krangkeng, Tukdana, Terisi dan Gantar.

Selain itu, Kabupaten Indramayu juga telah menyusun rencana infrastruktur untuk mendukung KPI tersebut. Yakni, berupa rencana pembangunan pelabuhan di Kecamatan Losarang, dan rencana jalan tol baru (Jalan Tol Terisi-Losarang, Jalan Tol Gantar-Kandanghaur, Jalan Tol Majalengka-Indramayu).

Adapula rencana infrastruktur pendukung KPI lainnya. Yaitu berupa pembangunan potensi wisata Pantai Karangsong dan Pulau Biawak, serta pembangunan jalur kereta api dari Stasiun Jatibarang Indramayu ke Bandara Kertajati serta dari Stasiun Terisi ke Kecamatan Losarang (rencana pelabuhan).

Taufik menegaskan, meski Indramayu akan menggenjot investasi dengan menyediakan kawasaan Industri, namun areal lahan pertanian akan tetap dipertahankan.

Pasalnya, sejak lama Kabupaten Indramayu juga menjadi salah satu lumbung padi nasional, dengan total produksi padinya rata-rata mencapai 1,7 juta ton per tahun. Sebagai daerah agraris, Indramayu memiliki 55,34 % atau 116.174 ha lahan pertanian, berupa persawahan dari luas daerah 209.938 ha. Lahan bukan sawah seluas 57.347 ha (27,31%).

Selain pertanian, Kabupaten Indramayu juga memiliki perkebunan dengan luas 8.921,06 hektare. Mangga Indramayu, khususnya mangga gedong gincu, adalah salah satu hasil perkebunan yang menjadi primadona dan mengangkat pamor Indramayu karena kelezatan rasanya.

Dengan produksi rata-rata 770.000 kg/tahun, Indramayu merupakan daerah ketiga penghasil mangga setelah Kabupaten Pasuruan dan Majalengka. Beragam jenis mangga ada di Indramayu seperti mangga gajah, harumanis, manalagi, golek yang paling favorit adalah cengkir dan gedong gincu Indramayu yang terkenal dengan aroma dan rasanya. Selain itu mangga agrimania yang baru diluncurkan tahun 2018.

Komoditi Sayuran patut dikembangkan dengan produksi 11.309 ton/tahun seperti cabai, bawang merah, kacang panjang, tomat dan jamur. Selain produksi pertanian yang juga patut dikembangkan adalah penunjangnya berupa agrowisata dan eduwisata.

Tahun ini sedang disusun perencanaan Hortipark yang rencananya di Kebun Mangga Kebulen. Masyarakat juga mulai tertarik membuat agrowisata seperti Agrowisata Flora Agrimania di Kecamatan Cikedung dan Agrowisata Jeruk Segeran di Kecamatan Juntiyuat.

Dinas Pertanian juga terus memaksimalkan peran petugas di lapangan, seperti penyuluh pertanian sebanyak 197 orang yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Indramayu. Dengan adanya 31 BPP di tiap kecamatan dan UPTD BPP, maka segala persoalan di lapangan bisa dikoordinasikan.

Dinas pertanian setiap tahun membangun dan memperbaiki sumber-sumber air seperti dam parit, long strorage, embung, pengeboran air tanah dangkal dan pintu air. Pembangunan jalan usaha tani, bantuan benih dan Alat mesin Pertanian, serta koordinasi dengan BBWS keterkaitan dengan penyediaan air.

Sementara untuk mengantisipasi gagal panen, pemerintah mencanangkan kepada petani untuk mengikuti AUTP (Asurasi Usaha Tani Padi) melalui PT Jasindo dengan membayar 25% atau sebesar Rp36.000/ha/musim, sisanya 75% disubsidi pemerintah Rp144.000/ha/musim. Apabila ada kerusakan di tanaman petani akan mendapat klaim Rp6.000.000/ha/Musim dengan ketentuan yang ada.

Di bidang perikanan, Indramayu juga memiliki potensi tambak seluas 26,9 ribu hektare, dengan budidayanya berupa udang, ikan bandeng, lele, rumput laut, dan garam. Selain perikanan tambak, produksi ikan laut mencapai 390 ribu ton per tahun. Semua produk perikanan dari Indramayu mampu memasok sekitar 40 persen kebutuhan perikanan Jawa Barat dan Jakarta.

Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) pun terus mendorong beberapa akses seperti permodalan perbankan atau menjalin sistem kolaborasi kebijakan anatara pemda daerah dan pemerintah pusat.

Nilai ekonomis perikanan dan budi daya tangkap ternyata cukup menggiurkan. Ikan tenggiri yang saat ini menjadi ikan primadona di Indramayu. Kemudian ikan tongkol, ikan remang/manyung, kakap merah, ikan bawal itu semua bernilai tinggi.

Belum lagi komoditas lain seperti kerupuk udang dan kerupuk ikan dengan sebtra di Desa Kenanga Kecamatan Sindang Blok Dukuh. Sebagai daerah yang memiliki potensi besar di bidang perikanan, jumlah nelayan di Indramayu pada tahun 2018 mencapai 41.654 dengan jumlah kapal nelayan 6.074 unit kapal. Perhatian pemda terhadap nelayan yakni melalui pembinaan setiap tahun rutin atau triwulan.

Kemudian adanya bantuan-bantuan terhadap nelayan walaupun tidak besar seperti alat tangkap dan sebagainya. “Bangunan doking kapal/kolam labuh kapal, asuransi nelayan, izin radio maritiman termasuk bantuan mobil pendingin yang mencapai ratusan unit terhadap TPI. Itulah bentuk perhatian bantuan kita kepada nelayan,” terang Taufik.

Dengan total investasi perikanan di Indramayu yang mencapai triliunan setiap tahun, faktanya Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Indramayu naik pada tahun 2018 mencapai Rp13 miliar dari tahun sebelum-sebelumnya yang hanya Rp9-Rp12 miliar dari tahun 2012 hingga 2016.

Selain pertanian dan perikanan, potensi peternakan di Kabupaten Indramayu masih berpeluang untuk dikembangkan.

Lahan pertanian juga menyediakan tempat sebagai lahan pengembalaan bagi ternak itik. Sampai dengan saat ini Kabupaten Indramayu termasuk salah satu kabupaten yang memiliki populasi itik yang terbesar di Jawa Barat. “Usaha peternakan di Kabupaten Indramayu berpotensi untuk di integrasikan dengan petani dimana dari pihak peternakan dihasilkan pupuk kandang sebagai pupuk organik bagi tanaman padi dan limbah tanaman padi (jerami dan dedak) dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ir Joko Pramono.

Selain itu, Indramayu juga memiliki sejumlah industri berat seperti Pertamina RU VI Balongan, UPMS Pertamina Balongan serta fasilitas terminal Liquid Petrolum Gas (LPG). Ada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sukra yang telah memasuki pembangunan tahap II yang memasok listrik Jawa-Bali, industri pengolahan ikan PT Java Seafood,  PT Polytama yang menghasilkan bahan baku plastik ramah lingkungan, PT Chan Jui Fang yang memproduksi keramik, serta PT Sinta di Kecamatan Gantar sebagai pabrik tekstil. (oet/adv)

News Feed