oleh

Cetak Lulusan Siap Kerja, SMP Wajib Buka Keterampilan (3)

Sistem pendidikan di Thailand hampir sama seperti sistem di Indonesia. Di Negeri Gajah Putih itu, menerapkan 9 tahun wajib belajar, dan 12 tahun pendidikan tingkat sekolah pertama dan menengah atas. Hanya saja, pendidikan disana gratis.

Adun Sastra, Thailand

SUDAH tiga hari kami bersama lima sang juara Bintang Pelajar Ranking Satu Radar Indramayu berada di Thailand. Kelima bintang pelajar yang mayoritas dari SD pinggiran itu bernama Fazriyah Hairunisah (SDN 2 Rancahan Kecamatan Gabus Wetan), Hanysah (SDN 6 Gunungsari kecamaran Sukagumiwang) , Frinca Destya Arum (SDN 1 Sukra Kecamatan Sukra), Sahrul Hidayat Iman (SDN2 Juntikeboan) dan hanya satu SD dari pusat perkotaan. Dia adalah Marsya Amelia Azzahra (SDN 6 Margadadi Kecamatan Indramayu.

Mereka tampak semangat melakukan kunjungan ke sekolah yang berada di Kota Bangkok Thailand. Bahkan selama di Bangkok, mereka sangat semangat untuk lebih mengetahui lagi sistem pembelajaran di Thailand.

Sistem pendidikan di Thailand, menerapkan pendidikan usia dini dengan usia 3 sampai 5 tahun itu masuk dalam pendidikan usia dini. Meski tidak diwajibkan, akan tetapi masyoritas orang tua menyekolahkan anaknya pada jenjang pendidikan TK. Sedangkan untuk SD,  mereka baru bisa masuk setelah berumur 6 tahun.

Yang membedakan dengan Indonesia, Thailand memiliki sejumlah program pendidikan unggulan. Selain membekali siswa dengan mata pelajaran eksakta dan ilmu pengetahuan teknologi, pemerintah menyiapkan generasi muda yang menguasai bahasa asing. Dan sebagai tambahan, siswa dibekali mata pelajaran agama, kesenian, olahraga dan sosial.

Lebih dari itu, program pendidikan unggulan yang diterapkan adalah dengan mewajibkan siswa untuk memilih kegiatan ekstrakurikuler. Seperti halnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia, sekolah-sekolah di Negeri Gajah Putih mengharuskan siswa memiliki keterampilan khusus, sesuai dengan minat dan bakat masing-masing individu. Bahkan sejak SMP, mereka sudah dibekali dengan dengan pengetahuan vokasi.

“Pelajar di Thailand, mulai masuk SMP diberikan kesempatan untuk memilih bidang keahlian sesuai kenginannya. Bagi sekolah-sekolah yang berada di pelosok dan perkampungan, keahlian yang banyak diajarkan dan disiapkan untuk siswa adalah keterampilan tata boga dan pembuatan cake, tata rambut, dan cutting sticker,” jelas Premjai Bunprasom,  Educations Supervisor Bangkok Metropolitant atau Bagian Pengawas Pendidikan kepada Radar usai menerima rombongan bintang pelajar saat mengunjungi Saikongdin School Bangkok.

Termasuk, di dalamnya pengembangan diri pada keahlian bermusik. Mereka wajib memilih satu diantara kegiatan ekstrakurikuler yang ada. Sedangkan peralatan musik dan keterampilan lainnya telah disipkan oleh Departemen Pendidikan di Bangkok.

Kebijakan sistem pendidikan yang diterapkan di Thailand bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin menyiapkan masa depan generasi muda, dengan bekal keterampilan dan keahlian yang didapat selama mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

Sehingga setelah lulus sekolah, siswa tidak menjadi pengangguran yang hanya akan membebani negara. Mereka bahkan telah siap bekerja, sesuai bidang keterampilan dan keahlian masing-masing. “Semua lulusan sekolah disini, sudah memiliki keahlian dan bisa mencari uang sendiri. Pemerintah disini mewajibkan sekolah untuk mencetak siswa siap bekerja. Sehingga mayoritas siswa sudah lulus di SMA saja tak akan menjadi beban pemerintah,” katanya.

Sementara bagi siswa yang berhasrat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, pemerintah Negeri Seribu Pagoda telah menyiapkan pinjaman melalui dana talangan. Uang pinjaman yang digunakan selama proses perkuliahan, baru akan dikembalikan kepada negara saat mereka sudah bekerja.

Dan selagi belum mendapatkan perkerjaan yang tetap, mereka tidak diwajibkan untuk membayarnya. Namun selagi mereka belum bisa mengembalikan dana talangan pemerintah, sampai kapan pun mereka akan tercatat memiliki hutang. Karena chip pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) di Thailand, terkoneksi dengan seluruh data yang dimiliki pemerintah.

Dan yang membedakan dengan Indonesia, di Thailand, warga yang baru melahirkan itu mendapat tunjangan untuk anak yang dilahirkan sekitar Rp350 ribu dan biaya persalinan juga gratis dan masih mendapat tunjangan persalinan sekitar satu juta lebih.

Di samping itu, antara pegawai negeri dan swsta di Thailand tak ada perbedaan. Karena pemerintah di sana memberlakukan tunjangan hari tua atau dana pensiun, semunya dapat. “Dana pensiunan itu diberikan bukan hanya pegawai negeri, tapi swasta juga dapat setiap bulannta,” terang Joni, pegawai asal Surabaya yang sudah puluhan tahun bekerja di sebuah perusahaan di Thailand.

ikut mendampingi juara Bintang Pelajar Ranking Satu Radar Indramayu adalah Ketua K3S Utung Aryanto SPd, Kepala SDN2vJuntikebon Jojo Sudirjo, Kepala SDN 6 Gunungsari Sukagumiwang Sumiati SPd dan satu lagi dari unsur pemerintahan desa. Ia adalah Kuwu Rancahan Kecamatan Gabus Wetan Titin yang sengaja ikut mendampingi warganya yang kebetulan dari SDN 2 Rancahaan. Siswinya lolos sebagai juara bintang pelajar, meski sekohnya jauh dari pusat kota dan benar benar sekolah pinggiran. Alasan ikut, karena merasa bangga anak waranya bisa tampil mengalahkan ribuan pelajar se-Kabupaten Indramayu. (bersambung)

News Feed