oleh

SMK PGRI 1 Gantar Siasati Keterbatasan Lahan, Bangun Ruang Kelas Bawah Tanah

INDRAMAYU-Lahan terbatas dan semakin tingginya harga tanah membuat SMK PGRI 1 Gantar berinovasi tak terbatas. Sekolah yang terletak di Blok Gantar Desa Gantar Kecamatan Gantar itu membangun ruang kelas bawah tanah.

Memiliki luas 9×36 meter, bunker yang dihimpit bangunan lantai dua, kantin serta masjid sekolah itu dimanfaatkan sebagai ruang belajar, laboratorim komputer, serta tempat penyimpanan serba guna. “Dijamin aman dan nyaman,” klaim Kepala SMK PGRI 1 Gantar, Arwadi MPd kepada Radar Indramayu, kemarin (26/11).

Aman, lantaran kontruksi bangunan dibuat sesuai dengan prosedur dan ahli yang berkompeten di bidang kontruksi. Bunker dibuat dengan teknologi modern dan tahan terhadap gempa. Dibangun pula terowongan bawah tanah (underground) yang menghubungkan antara ruangan 1 dan 2 yang letaknya di bawah masjid.

Demi kenyamanan, terpasang belasan lampu serta pendingin udara (AC) disetiap sudut ruangan. “Siswa dan guru kalau belajar di dalam bunker pada malas keluar. Nyaman banget sih,” ujarnya.

Arwadi mengungkapkan, selain keterbatasan lahan, pembangunan bunker yang dimulai pada tahun 2017 lalu itu didorong oleh peristiwa pencurian  komputer sekolah. Mengantisipasi kejadian berulang, pihaknya bersama guru dan komite sekolah sepakat membuat ruangan yang benar-benar aman. “Makanya di bunker ini hanya ada satu akses pintu masuk. Kan gak ada jendela,” ujarnya.

Rencana kedepan, di atas bunker akan dibangun ruang makan atau resto ditambah ruang kelas baru yang ketinggiannya sama dengan bangunan sebelumnya.

Arwadi mengklaim, ruang kelas bawah tanah di SMK PGRI 1 Gantar ini baru satu-satunya ada di Jawa Barat bahkan Indonesia. “Dengan keterbatasan lahan, kami perlu memanfaatkan areal yang ada dengan sebaik-baiknya. Saya belum tahu ada sekolah lain yang memiliki bunker, cuma ada disini,” ucapnya bangga.

Dia menambahkan, lokasi SMK PGRI 1 Gantar sangat strategis berada dipinggir jalan raya dan menjadi lokasinya berada di pertigaan arah Ponpes Al Zaytun di selatan, Kabupaten Subang di sebelah barat serta akses jalan ke timur menuju Kecamatan Kroya yang merupakan calon ibu kota Kabupaten Indramayu Barat (Inbar).

Tak mengherankan, harga tanah di kawasan itu melonjak tajam. Saat ini harganya sudah mencapai Rp700-800 ribu permeter persegi atau Rp10 juta perbata.

“Jika tidak membangun ruang kelas bawah tanah, sekolah kami terancam akan mengalami krisis lahan sekalipun sudah diantisipasi melalui gedung vertikal,” tandasnya. (kho)

News Feed