oleh

Kepsek di Indramayu Tertipu “Orang Kemdikbud”

INDRAMAYU-Berharap untuk mendapat ruang kelas baru (RKB), sejumlah kepala sekolah di Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu justru mengaku tertipu. Mereka tertipu program bantuan ruang kelas baru (RKB), yang dijanjikan oleh seseorang yang mengaku dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dampak kejadian ini, selain pembangunan ruang kelas yang terhenti, toko material penyedia bahan bangunan juga mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Informasi yang diperoleh Radar Indramayu, pembangunan ruang kelas yang terhenti itu di antaranya pada SDN 1 Karangkerta, SDN 1 Sukamulya, SDN 4 Sukamulya, SDN Mekarsari, dan SDN 1 Kerticala, serta sejumlah lokasi lainnya di Kecamatan Tukdana.

Di sejumlah sekolah tersebut, telah dilakukan pekerjaan pemasangan pondasi untuk 2 sampai dengan 3 ruang kelas. Bahkan beberapa juga telah menyelesaikan pekerjaan dinding seperti di SDN 1 Karangkerta, hingga pekerjaan atap seperti di SDN 1 Sukamulya. Namun kini nasibnya tak jelas.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Tukdana, Duriat mengungkapkan, sebelumnya sejumlah kepala sekolah diperkenalkan dengan seseorang yang mengaku dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu oleh Suradi, Sekretaris Pemerintah Desa Lajer Kecamatan Tukdana.

Seseorang yang kemudian diketahui bernama Budi Syehabudin, warga Pajajaran Kota Bandung itu, mulanya mengaku “orang kemdikbud” dan membawa program bantuan untuk merenovasi sekolah rusak di Kabupaten Indramayu.

Budi pun berhasil meyakinkan para kepala sekolah. Bahkan sebelum proses pembangunan ruang belajar itu dimulai, para kepala sekolah dan Budi Syehabudin, konsultan bodong Kemendikbud itu pun bersama-sama menemui Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu Dr HM Ali Hasan MSi di ruang kerjanya.

“Kita baru tahu kalau kita tertipu, setelah dananya tidak bisa dicairkan oleh bank. Saya pun langsung ke Jakarta dan berkonsultasi dengan Kemendikbud, ternyata program bantuan ruang kelas yang dimaksud ini tidak pernah ada,” ungkap Yayat, sapaan akrab Duriat, Sabtu (16/11) lalu.

Pencairan yang direncanakan akan dapat dilakukan setelah pembangunan mencapai 35%, ternyata fiktif. Bantuan yang dananya disebutkan bersumber dari Bank Dunia itu ternyata diketahui fiktif setelah para kepala sekolah memastikannya ke bank yang disebutkan ditunjuk sebagai bank penyalur dana bantuan tersebut.

Sejak itu pula, Budi Syehabudin tidak dapat dihubungi dan menghilang. Padahal sebelumnya, selama proses pembangunan ia kerap mendatangi lokasi pekerjaan untuk memantau perkembangan pekerjaannya.

Kondisi ini membuat kepala sekolah semakin kebingungan. Di satu sisi, mereka membutuhkan ruang kelas baru untuk peserta didik mereka, namun di sisi lain pembangunan ruang kelas tersebut belum dapat dilanjutkan. Mereka berharap ada solusi untuk menyelesaikan persoalan ini. “Kami berharap bangunan yang sudah ada ini dapat dilanjutkan, agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar,” harapnya.

Kasus ini pun telah dilaporkan ke Polres Indramayu. Pada laporan polisi tersebut, diungkapkan telah terjadi tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan sebagaimana pasal 378 Jo 372 KUHPidana. Dalam laporannya, untuk SDN 1 Karangkerta dan SDN Mekarsari Kecamatan Tudana, kerugiannya ditaksir mencapai Rp415 juta. Polisi pun telah mengamankan barang bukti diantaranya berkas surat perjanjian perintah kerja, dan rencana anggaran biaya pembangunan ruang kelas tersebut, serta bukti lainnya. (oet)

News Feed