oleh

Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, Miliki Binaan Lestarikan Kesenian Khas Indramayu

Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah berhasil menampilkan tiga kesenian hasil binaannya di ajang Dermayau Art Festival, memeriahkan hari jadi ke-492 Kabupaten Indramayu. Bagimana kiprah sukses sanggar ini dalam melestarikan seni tari lokal?

ANANG SYAHRONI, Indramayu

MESKIPUN konsentrasi Sanggar Tari Mimi Rasinah pada seni tari topeng, tetapi tetap berupaya melestarikan kesenian lokal lainnya. Sehingga, binaan dari sanggar ini bisa menampilkan beragam kesenian tari lokal. Hal itu terlihat saat pertunjukan Dermayu Art Festival.

Binaan dari sanggar menampilkan tiga kesenian yakni tari topeng, tarian manuk rawa yang merupakan dari Bali, dan seni tari Bleknong. “Penampilan ragam tari lokal itu sebagai komitmen kami dalam mengenalkan dan melestarikan kesenian di Indramayu. Selain tari topeng, kami ingin melestarikan seni tari lainnya,” kata Ketua Yayasan Sanggar Tari Mimi Rasinah, Edi Supriyadi kepada Radar Indramayu, kemarin (17/10).

Dikatakan Edi, dalam pelestarian seni dan budaya yayasan sanggar tari yang diketuainya, mencoba mengenalkan kesenian tari manuk rawa yang merupakan perpaduan antara tarian klasik Sunda dan Jawa, yang dimodifikasi dengan model tari klasik Bali.

“Menggambarkan  sekelompok manuk (burung), dan rawa (air). Tujuannya lebih mengenalkan tari tradisional. Tari ini diciptakan pada tahun 1980-an oleh koreografer dan komposer dari Bali,” ujarnya.

Selain itu, yayasannya juga ikut mengenalkan kesenian tradisional lainnya, yang khas dari Kabupaten Indramayu yakni kesenian Bleknong yaitu seni arak-arakan yang sudah melekat di masyarakat Indramayu, dimana peserta arak-arakannya memakai topeng.

“Ada yang menyebutnya blektong, jreknong, dan bleknong, ya sama saja. Kita coba angkat lagi kenalkan bahwa kesenian arak-arakan di Indramayu ada, dan khas dari Indramayu,” jelasnya.

Sementara itu, Pengurus Sanggar Tari Mimi Rasinah, Ade menambahkan, sanggar tari topeng Mimi Rasinah sudah puluhan tahun berupaya melestarikan seni dan budaya di Kabupaten Indramayu. Bahkan, sudah memiliki binaan, seperti tari topeng di Desa Krimun Losarang dan Indramayu. “Semuanya ditampilkan pada Dermayu Art Festival 2019. Hal itu menunjukan komitmen dari sanggar tari untuk mempertahankan kesenian di Indramayu,” tuturnya.

Diakui Ade, yang dikembangkan bukan hanya tari topeng saja tetapi semua kesenian dan kebudayaan yang sudah tak terlihat lagi di Indramayu. “Kami berusaha munculkan kembali sehingga bisa semakin eksis,” pungkasnya. (*)

News Feed