oleh

Festival Tjimanoek Meriah, Lebih Banyak Tampilkan Aspek Sejarah

INDRAMAYU-Festival Tjimanoek (FTJ) merupakan agenda rutin tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat Indramayu. Setelah tahun lalu FTJ 2018 digelar di sepanjang Kali Cimanuk, FTJ 2019 kembali ke darat. Dengan mengambil start di Sport Center, Sabtu (12/10), peserta melakukan arak-arakan menyusuri Jalan DI Panjaitan, Jalan Jenderal Soedirman, Jalan DI Panjaitan, lalu berhenti di panggung kehormatan yang ada di Pasar Mambo, sebelum menuju garus finish.

FTJ 2019 ini sepertinya lebih banyak menghadirkan cerita legenda Indramayu masa lalu, yang diperankan oleh siswa-siswi SMA/SMK bahkan SMP. Seperti Sejarah Raden Arya Wiralodra, Nyi Endang Dharma Ayu, Dampu Awang, Ki Bajul, Jaka Tarub,  Suta Jaya, dan legenda lainnya.

Selain itu, menghadirkan juga pentas seni Tari Topeng Kelana, Kuda Lumping dan Fashion Show dengan aneka modifikasi yang melambangkan Indramayu. Ada Ratu Mangga, dengan asesories mangga plastik di sekujur tubuhnya, ada Gadis Ngarot dengan bunga warna-warni di kepalanya yang juga dimodifikasi. Ada juga yang menampilkan busana dengan daun mangga, limbah kertas, dan masih banyak lagi.

Komunitas sepeda onthel mengawali karnaval dengan mebagi-bagikan mangga. Kemudian disusul atraksi drum band Gita Abdi Praja (GAP) dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang tampil memukau. FTJ 2019 ini juga diikuti kontingan peserta dari kabupaten/kota lain di Jawa Barat seperti Kuningan, Ciamis, Cirebon, Bandung Barat, Tasikmalaya, dan lain-lain. Juga dari provinsi lain seperti Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan yang lainnya.

Bupati Indramayu Drs H Supendi MSi mengatakan, Festival Tjimanoek 2019 menjadi bagian dari mempertahankan dan memperkenalkan tradisi maupun seni dan buaya Indramayu kepada masyarakat luas. Supendi menegaskan, penyelenggaraan Festival Tjimanoek Indramayu 2019 terus mengalami perbaikan dalam setiap tahunnya. Sehingga, Kabupaten Indramayu akan semakin dilirik oleh tamu luar kota bahkan mancanegara sehingga Indramayu akan go internasional.

“Melalui kegiatan Festival Tjimanoek 2019 ini kita berusaha mempertahankan, melestarikan dan memperkenalkan seni dan budaya serta potensi unggulan milik Indramayu kepada masyarakat luas, termasuk duta besar sejumlah negara yang ingin melihat budaya khas Indramayu,” katanya.

Sayang kondisi udara yang panas terik, ditambah dengan suasana tempat duduk yang tidak nyaman di panggung, membuat para duta besar tidak bisa berlama-lama di atas panggung. Dengan dikawal personel dari Polres Indramayu, mereka memilih untuk melanjutkan agenda lain.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Indramayu Drs H Carsim MSi menjelaskan, Pemkab Indramayu saat ini telah mengfokuskan diri melakukan pemberdayaan terhadap sanggar-sanggar kesenian dan kebudayaan di Indramayu melalui bantuan-bantuan program. Sehingga, kedepannya pelaku sanggar memiliki akses yang luas dalam proses penampilan dan pertunjukan kesenian budaya khas Indramayu kepada masyrakat.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Area 1 (Jawa) Kemenpar RI Wawan Gunawan, mengapresiasi adanya penyelenggaraan Festival Tjimanoek. “Saya apresiasi Festival Tjiamnoek. Tapi yang tidak kalah penting harus dikemas semenarik mungkin. Pada tahun depan Kabupaten Indramayu akan menampilkan konsep apa. Kalau ternyata sama seperti ini artinya tidak ada perubahan,” ungkapnya.

Kedepan, kata dia, Festival Tjimanoek bisa lebih besar lagi jika dikemas dengan baik. Wawan meminta, ke depan kegiatan tahunan itu bisa berkembang lebih baik lagi dan terus dievaluasi. “Harapan saya kedepan harus dikemas lebih baik lagi, dibuat lebih spektakuler. Sehingga yang nonton bukan hanta warga Indramayu, namun bisa mendatangkan orang-orang dari luar daerah untuk datang ke Indramayu. Jadi Festival Tjimanoek harus bisa dijual,” harap Wawan. (oet)

News Feed