oleh

Di Balik Nama Syekh Abdul Manan di Masjid Islamic Centre adalah Buyut Kang Yance

-Headline, Indramayu-1.237 views

MASJID Islamic Centre Syekh Abdul Manan menjadi salah satu masjid termegah dan menjadi kebangaan bagi masyarakat Indramayu. Lokasi pembangunan yang berada di Simpang Lima Indramayu itu memiliki daya tarik tersendiri.

Selain sebagai tempat kegiatan keagaman, masjid yang satu ini menjadi ikon Kabupaten Indramayu yang mengusung visi Indramayu Relegius Maju Mandiri dan Sejahtera (Relegius). Berdirinya masjid yang menelan anggaran biaya Rp180 miliar itu tak terlepas dengan keinginan yang kuat dari seorang pemimpin dan dukungan dari masyarakat Indramayu.

DOA BESAMA: Wakil Bupati dan mantan Bupati H Yance hadir dalam acara doa bersama di
makam Syekh Abdul Manan.

Di era kepemimpinan Bupati Anna Sophanah SH dan Drs H Supendi MSi, Masjid Islamic Centre Syejh Abdul Manan, mulai dibangun dengan menggunakan anggaran dari APBD kabupaten dan provinsi. Tanpa kemauan yang kuat dari seorang pemimpin, program apa pun tidak akan berjalan dengan baik. Dari sini lah, butuh seorang pemimpin yang memiliki visi misi jelas guna kemajuan di bidang keagamaan.

Hal ini ada pada diri Bupati H Supendi, yang dua periode jalan mendampingi Hj Anna. Sekarang, pria kelahiran asli Blok Pentil Desa Bongas Kecamatan Bongas Indramayu dipercaya menjadi orang nomor satu di Kota Mangga Indramayu.


TEMPAT PEMAKAMAN:Buyut Syekh Abdul Manan H Yan Mulyantoro sedang kirim
doa di makam Syekh Abdul Manan di Kelurahan Paoman

Masyarakat baik dari dalam maupun luar Indramayu, tentunya bertanya tanya tentang nama Syekh Abdul Manan di belakang nama masjid? Dia itu bukan sosok sembarangan, dan merupakan tokoh ulama besar di Indramayu yang hidup pada era 1800 an. Keturunan dari Syekh Abdul Manan sendiri juga merupakan salah satu tokoh yang selalu berjuang untuk kepentingan Islam dan sekarang pemikirannya masih dibutuhkan oleh masyarakat Indramayu.

Ia adalah mantan Bupati Indramayu dua periode Dr H Irianto MS Syafiuddin alias Kang Yance, yang merupakan buyut dari Syekh Abdul Manan. Selain nama Yance, ada juga nama H Yan Mulyantoro kakak dari H Mulya Sejati juga tercatat sebagai buyut. Makanya tak heran, tokoh Indramayu H Yance menempatkan nama Syekh Abdul Manan dalam nama Masjid Islamic Centre. Meski sosoknya belum banyak  diketahui oleh masyarakat, namun sekarang namanya ada dalam masjid tersebut.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Indramayu Dedy S Musashi SS menjelaskan, cicit dari ulama besar itu adalah Kang Yance dan Yan Mulyantoro. Syekh Abdul Manan semasa hidupnya tinggal di Kelurahan Paoman Indramayu, dan sekarang ulama besar itu dimakamkan di TPU Kelurahaan Paoman. Pihaknya berharap ada kemauan dari pemerintah daerah untuk membangun museum khusus untuk sosok beliau. Sehingga masyarakat tahu tentang kiprahnya dalam perkembangan Islam di Indramayu.

Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah sebuah tarekat yang berdiri pada abad XIX M. oleh seorang sufi besar asal Indonesia, Syaekh Achmad Khotib Al-Syambasi. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Syekh Sufi besar yang saat itu menjadi Imam Masjid Al Haram di Makkah al-Mukarramah, Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi al-Jawi (wafat 1878 M). Dia adalah ulama nusantara yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi adalah mursyid Thariqah Qadiriyah.

Setelah Syaikh Ahmad Khatib wafat ada seorang kesatria asal Kampung Paoman  yang saat ini adalah kelurahan Paoman, dicatatkan keberadaan salah satu murid dari Syekh Thalhah bin Talabudin yaitu Syekh Abdul Manan putera dari Kyai Haji Asnawi, cucu dari Ki Baludin (yang merupakan garis keturunan Pangeran Suryanegara, Cirebon). Sezaman dengan Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya. Syekh Abdul Manan pun aktif menyebarkan Tarekat di wilayah Indramayu yang mendapat Khirqoh (pengangkatan secara resmi sebagai guru dan pengamal ) Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah yaitu dari Mama Guru Agung Syekh Tolhah Bin Talabudin. Selanjutnya Pondok Pesantren Suryalaya menjadi tempat Bertanya tentang tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah.

Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dalam silsilah Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah berada pada urutan ke-36 setelah Tholhah bin Talabudin (Situs Makam berada di Gunung Jati Cirebon) dan Syekh Abdul Manan bisa dikatakan menempati urutan ke-37 (Situs Makam berada di Kelurahan Paoman Indramayu ).

Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad di kalangan murid-muridnya dikenal dengan panggilan Abah Sepuh. Karena usia memang sudah tua atau sepuh, saat itu usianya sekitar 115 tahun. Di antara murid-muridnya ada yang paling menonjol dan memenuhi syarat untuk melanjutkan kepemimpinannya. Murid tersebut adalah putranya sendiri yang ke-5 Abah Anom, KH A Shohibulwafa Tajul Arifin diangkat sebagai (wakil Talqin) Karena usianya yang masih muda berusia 35 tahun oleh karena itu para ikhwan tarekat memanggil “Abah Anom” ( Kiai Muda ).

Sepeninggal Syekh Abdul Manan  Paoman ) dan Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad sebagai mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah yang berpusat di Pondok Pesantren Suryalaya dilanjutkan oleh Tajul Arifin atau KH A Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom ) sampai sekarang, mempunyai wakil talqin yang cukup banyak dan tersebar di 35 wilayah dan berkembang juga mencatatkan murid-murid dan pengamal serta mursyid (khususnya di Indramayu .

Kiprah Syekh Abdul Nanan terekam pada tujuh (7) buah Naskah Kuno (1800-1900) yang merupakan salah satu BCB Manuskrip  Indramayu yang sudah dilakukan proses sebagai Manuskrip Islam Asia Tenggara dalam program Perpusnas & DreamSea (Digital Repository Of Endangered And Affected Manuscripts In South East Asia). “Itulah sepenggal sejarah sosok ulama besar Indramayu yang sekarang namanya dicantumkan pada Masjid Islamic Centre Indramayu,” jelas Dedi, Arkeolog jebolan Universitas Udayana Bali ini. (dun)

 

News Feed