oleh

BWI Siap Bangun Pabrik Tepung Tapioka di Cikawung Terisi

BUPATI Drs H Supendi MSi dinilai cukup berhasil dalam memajukan sejumlah perusahaan daerah di Kabupaten Indramayu. Salah satunya Perusahaan Daerah Bumi Wiralodra Indramayu (PD BWI) yang sebelumnya mengalami kerugian kini terus merangkak naik. Bahkan, dalam kurun waktu satu tahun, bisa mencapai miliran rupiah sehingga mampu menyokong penghasilan asli daerah (PAD) Kabupaten Indramayu.

Untuk terus meningkatkan laba dan membantu masyarakat, terutama dari kalangan petani, BWI bertekad untuk membangun sebuah pabrik pengolahan tepung tapioka pertama di Kabupaten Indramayu. Hal ini dilakukan untuk memberdayakan sumber daya yang cukup berlimpah, baik petani, lahan maupun pangsa pasar yang ada di wilayah kabupaten Indramayu.

KOMPAK: Bupati Indramayu berfoto bersama dengan jajaran direksi dan pegawai PD BWI Kabupaten
Indramayu.

Pernyataan itu disampaikan Direktur PD BWI Soen Sudjarwo ST kepada Radar Indramayu di ruang kerjanya, belum lama ini. Menurutnya, ini merupakan program lama PD BWI yang baru akan direalisasikan pada 2020 mendatang. Program ini berupaya memberdayakan potensi petani singkong yang ada di Kabupaten Indramayu.

“Petani singkong di Kabupaten Indramayu masih kesulitan untuk memasarkan hasil panen yang cukup berlimpah. Dengan pabrik tepung tapioka yang dimiliki PD BWI, mereka tidak akan kesulitan dan kebingungan lagi dalam memasarkan singkongnya,” terangnya.

Disebutkan Soen, pabrik yang akan dibangun di Desa Cikawung Kecamatan Terisi ini memiliki kapasitas produksi sebanyak 20 ton tepung tapioka per hari. Sehingga dibutuhkan 400 hingga 500 hektare lahan singkong, untuk bisa menyuplai kebutuhan pengolahan tepung tapioka.

TEAMwork: Dari kiri, Direktur PD BWI Indramayu H Soen Soen Soedjarwo ST , Direktur Operasional Surya SE dan
Direktur Umum dan Keuangan H Rasdiwan SE.

“Saat ini kita baru menanam singkong pada demplot percobaan di wilayah Cikawung seluas 50 hektare. Jika hasil panen sesuai dengan kualitas untuk kebutuhan produksi tepung tapioka, lahan penanaman akan diperluas 400 hingga 500 hektare,” imbuhnya.

PD BWI tampaknya tidak banyak menemui kesulitan dalam memasarkan tepung tapioka buatannya. Hasil produksi tepung tapioka PD BWI, diproyeksikan untuk memasok separuh dari kebutuhan tepung tapioka pada sentra industri kerupuk desa Kenanga kecamatan Sindang.

“Untuk sentra industri kerupuk di (desa) Kenanga saja tiap harinya membutuhkan hingga 40 ton tepung tapioka. Dengan kapasitas produksi 20 ton per hari, kita bisa pasok setengah dari kebutuhan mereka,” tegasnya.

Tidak hanya tepung tapioka, limbah padat industri tepung tapioka (onggok) yang berupa ampas hasil ekstraksi dari pengolahan tepung tapioka juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Dengan peluang yang sangat terbuka ini, PD BWI juga berencana membangun sentra penggemukan sapi pedaging. “Dengan kapasitan produksi 20 ton per hari, onggoknya bahkan bisa mencapai 40 ton. Ini juga yang akan kita manfaatkan dengan membuat sentra penggemukan sapi potong di kabupaten Indramayu,” tandasnya.

PD BWI merupakan perusahaan plat merah milik Pemerintah Kabupaten Indramayu. Per 31 Agustus 2019, PD BWI tercatat meraup laba hingga Rp7 miliar. Keuntungan ini didapat dari hasil kepemilikan saham di PT Migas Hulu Jawa Barat Offshore North West Java (MUJ ONWJ).

Sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2016, pengusaha pengeboran minyak yang berada di bawah PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) memiliki kewajiban untuk memberikan sebagian keuntungan kepada perusahaan milik pemerintah daerah melalui program participating interest. Selain Indramayu, kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang mendapatkan program ini adalah Subang, Karawang serta Kabupaten Bekasi. (adv)

 

 

News Feed